Minggu Adven II, 8 Desember 2013

Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!

Mark Stibbe, dalam bukunya Panduan Memahami Iman Kristen, menulis: ”Sejarah dipenuhi dengan contoh orang-orang yang ingin menjadi Allah. Tetapi, sejarah hanya mencatat satu kisah Allah yang menjadi manusia.” Tak hanya menjadi manusia, Dia juga memilih jalan hidup sebagai hamba.

Jalan kehambaan itulah yang merupakan sari pemberitaan Yohanes Pembaptis saat berseru: ”Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat. 3:2). Makna dekat di sini bisa dibaca bahwa Kerajaan Sorga sudah berada dalam jangkauan. Kerajaan sorga bukan lagi sesuatu yang jauh dan di sana; tetapi sungguh dekat dan di sini.

Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Bertobatlah dari dosa-dosamu,” katanya, ”karena Allah akan segera memerintah sebagai Raja!” Inilah yang dimaksudkan dengan Kerajaan Allah. Nah, jika Allah memerintah sebagai Raja, maka tak ada jalan lain bagi manusia selain mengubah dirinya. Perubahan itulah yang dimaksud dengan bertobat.

Bertobat berarti berpaling dari dosa dan kembali bersekutu dengan Allah. Bertobat bukan sekadar tak berbuat salah. Bukan itu. Inti pertobatan: bersekutu dengan Allah. Dalam persekutuan dengan Allah, dosa niscaya lenyap. Nah, jika Allah memerintah sebagai Raja, maka tak ada lagi tempat bagi raja-raja kecil di dalam kerajaan-Nya itu. Ketika Allah memerintah sebagai Raja, maka semua makhluk adalah hamba-Nya.

Tak mudah menjadi hamba. Banyak orang lebih suka menjadi penguasa. Dan, kata orang, salah satu cara menilai karakter seseorang adalah dengan memberinya kuasa. Seseorang yang mempunyai kuasa sering lebih suka menguasai orang lain ketimbang menguasai dirinya sendiri.

Pada titik ini Nelson Mandela bisa menjadi teladan. Salah satu kalimatnya yang menjadi warisan dunia adalah: ”Tak ada masa depan tanpa pengampunan.” Demikianlah yang dijalaninya selama berkuasa menjadi presiden dengan membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Karena itulah, negara Afrika Selatan tidak mengalami perpecahan. Itulah buah jalan kehambaan Mandela.

Hamba Allah
Kalau hari ini akan ada anak-anak kita yang mengakui percaya,saya hendak menyatakan bahwa jalan hidup Kristen adalah jalan kehambaan sebagaimana Kristus yang berkenan sebagai hamba. Dan itulah yang dinubuatkan Yesaya (Yes. 11:2-5).
Dalam nubuat Yesaya, hamba Allah tidak mengikuti kemauannya sendiri. Dia menaruh kehendaknya di dalam kehendak Tuhan dan berjalan menurut kehendak Tuhan.

Hamba Allah merupakan seorang yang bijak, sekaligus bajik—tak hanya pintar, namun punya nurani. Masalah terbesar kepemimpinan ialah banyak orang pintar, tetapi tak punya hati. Semuanya serba logis. Atau, banyak orang pintar yang malah memintari orang lain.

Hamba Allah juga seorang yang cakap mengambil keputusan, dan melaksanakannya. Banyak orang cakap mengambil keputusan, tetapi tak cakap melaksanakan keputusannya sendiri. Atau, keputusan itu tinggal keputusan. Lalu, apa artinya keputusan yang telah dibuat?

Hamba Allah mengenal kehendak Allah dan takwa kepada-Nya. Dia tahu kehendak Allah dan berupaya menjadikan kehendak Allah itu sebagai kehendak dirinya sendiri. Dia melibatkan dirinya di dalam kehendak Allah itu. Dia menyerahkan dirinya untuk terhisap, terlibat, dan ikut aktif di dalam kehendak Allah itu. Masalah terbesar pemimpin ialah tahu yang baik, tetapi tak mau mengusahakannya.

Kesukaannya ialah taat kepada Tuhan. Ketaatan bukanlah paksaan. Menaati Tuhan merupakan jalan yang rela ditempuhnya.. Menjadi taat merupakan pilihan dalam kehendak bebasnya. Dia memilih untuk menjadi taat.
Hamba Tuhan juga tidak mengadili sekilas pandang atau berdasarkan kata orang. Dalam mengambil keputusan, dia merasa perlu bertindak tegas terhadap dirinya sendiri. Dia tahu dia punya keterbatasan. Dia tidak terjebak untuk mengikuti nalurinya. Dia menahan diri untuk tidak mengikuti prasangka. Semakin bijak orang, sering malah tidak mampu melihat dengan jernih. Begitu percaya dirinya, sehingga dia merasa praduganya pasti benar.

Dan dia tidak mengambil keputsan berdasarkan kata orang. Dia merasa perlu bertindak cover both side. Dia merasa perlu memerhatikan pertimbangan banyak pihak. Juga pihak-pihak yang berseberangan dengan dirinya sendiri. Dia berdiri di atas kepentingan semua pihak, terutama pihak-pihak yang bertentangan.

Orang miskin dihakiminya dengan adil, orang tak berdaya dibelanya dengan jujur; orang bersalah dihukum atas perintahnya, orang jahat ditumpasnya. Ia bertindak dengan adil dan setia dalam segala-galanya. Dia bertindak adil.
Yang salah, ya dihukum. Yang benar, ya dibela. Dia tidak merasa perlu bertindak berdasarkan kepentingan-kepentingan pribadi. Dia bertindak berdasarkan kebenaran dan keadilan.

Demikianlah tindakan-tindakan konkret seorang yang memanggil dirinya sebagai hamba Allah. Menjadi hamba Allah sesungguhnya juga merupakan panggilan.

Pada titik ini, agaknya kita perlu belajar dari Salomo, yang bermazmur, ”Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja dan keadilan-Mu kepada putera raja!” (Mzm. 72:1). Meski seorang raja, Salomo tidak menganggap dirinya lebih hebat dari Allah. Dia tunduk kepada Allah!

Buah Pertobatan
Hamba Allah tak hanya status. Hamba Allah merupakan panggilan untuk menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan. Itu pulalah yang dikumandangkan Yohanes Pembaptis—”…hasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan!” (Mat. 3:8). Dalam BIMK tertera: ”Tunjukkanlah dengan perbuatanmu bahwa kamu sudah bertobat dari dosa-dosamu.”

Yohanes Pembaptis tidak asal ngomong. Dia sendiri telah hidup dalam pertobatan itu. Meski ada kesempatan baginya untuk menjadi Mesias, Raja yang dinanti-nantikan Israel, Yohanes Pembaptis tidak menghiraukannya. Bahkan dia belajar untuk hidup miskin.

Matius menggambarkannya sebagai pribadi yang ”memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan” (Mat. 3:4). Jubah bulu unta adalah pakaian paling kasar waktu itu dan makanannya adalah belalang dan madu liar.

Tentu saya tidak hendak mengajak kita untuk makan belalang dan madu hutan. Tidak. Tetapi, agaknya Yohanes Pembaptis mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Belajar hidup miskin adalah mengutamakan kebutuhan ketimbang keinginan.

Sewaktu pertama kali hendak membeli laptop seorang pemuda, warga jemaat GKI Halimun, tidak bertanya berapa uang yang saya sediakan untuk laptop, tetapi, dia bertanya saya menggunakan laptop itu untuk apa. Setelah saya mengatakan bahwa laptop itu hanya akan saya gunakan untuk menulis. Dia lalu berkata, ”Ini sudah cukup, Pak!”

Dalam gereka Katolik ada kaul kemiskinan dalam gereja Katolik. Kaul kemiskinan tidak hanya persoalan menjadi miskin, tetapi juga tertib administrasi. Siap mempertanggungjawabkan setiap rupiah yang kita miliki.

Saudara mungkin bertanya, ”lalu sisanya buat apa?” Kita belajar hidup hemat agar kita punya kesempatan untuk berbagi kepada orang lain. Zaman semakin susah. Karena itulah kita harus mau hidup hemat agar bisa berbagi. Dan itulah hidup yang berbuah!

Yoel M. Indrasmoro

Minggu Adven I, 1 Desember 2013

HIDUP DALAM HADIRAT TUHAN

Tahun baru gerejawi dimulai Minggu ini, 1 Desember 2013. Itu berarti kita kembali memasuki Masa Adven (latin: kedatangan), selama empat minggu berturut-turut, sebelum menyambut kedatangan Allah Yang Menjadi Manusia dalam Natal.

Nah, tahun baru adalah momen yang tepat untuk memulai sesuatu yang baru. Karena itu, perlulah kita bertanya: ”Apa yang akan kita lakukan pada tahun baru ini?”

Tentunya, awal baru tak hanya butuh niat baru. Sejarah menyatakan—setidaknya sejarah hidup saya—hidup manusia sering disesaki niat tanpa realisasi. Perlu sikap waspada, agar niat tak tinggal niat belaka.

Herbert Kauffman, sebagaimana dikutip Frank Bettger dalam buku Meretas Kegagalan Menuju Sukses Penjualan, menulis: ”Di daftar orang yang berhasil namamu tidak terdapat. Jelaskan kenapa! Bukan peluang yang kau tidak punya! Seperti biasa—Kau tidak berbuat apa-apa.” Itulah persoalan manusia pada umumnya.

Siap Sedia
Bukan hal aneh, jika pada Minggu-minggu Adven, Kitab-kitab Injil berbicara soal kewaspadaan. Sekali lagi, agar kita tidak jatuh dalam lubang kesalahan yang sama—”tidak berbuat apa-apa”

Penulis Injil Matius merekam nasihat Sang Guru dari Nazaret: ”Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” (Mat. 24:42).

Yesus menggambarkan hari kedatangan-Nya itu dengan cara yang sungguh biasa—laki-laki masih tetap bekerja di ladang dan perempuan memutar batu giling. Tak ada peristiwa supernatural.

Dan hal-hal serbabiasa itulah yang sering membuat manusia lengah! Tak ada peringatan dini sebagaimana bencana Tsunami. Tak ada pula, status Waspada, Siaga, Awas sebagaimana status gunung berapi di atas normal.
Karena semuanya serbabiasa, Yesus menasihati para murid-Nya untuk tetap siap sedia. Artinya, tetap melaksanakan kewajiban mereka sebagai murid.

Berjalan dalam Terang Tuhan
Kepada umat Israel, Yesaya berseru: ”Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN.” (Yes. 2:5). Seruan itu bernada undangan, bukan paksaan. Namun, undangan itu sekaligus juga peringatan—pentingnya berjalan dalam terang TUHAN.

Hanya dalam teranglah manusia dapat melihat. Manusia mampu melihat jika ada cahaya yang tertangkap retina. Tanpa terang itu, mustahil manusia dapat melihat. Hanya dalam teranglah, manusia dapat percaya diri dalam menentukan langkahnya.

Berjalan dalam terang TUHAN akan membuat kita berani melangkahkan kaki. Dalam gelap, yang kita lakukan hanyalah meraba-raba. Dalam gelap yang ada hanyalah kegamangan, keragu-raguan.

Dalam terang TUHAN berarti juga Allahlah yang menerangi jalan kehidupan kita. Dengan kata lain, Allahlah yang menunjukkan jalan-jalan-Nya kepada kita. Ketika mengambil keputusan, kita mengambil keputusan berdasarkan terang TUHAN. Itu berarti pula kita hidup dalam terang TUHAN!

Serbakonkret
Bagaimanakah kita hidup dalam terang Tuhan itu? Bicara soal hidup tentulah kita paham bahwa hidup bukanlah abstrak. Hidup merupakan kegiatan sehari-hari. Hidup dalam terang Tuhan harus maujud dalam tindakan-tindakan konkret.

Yesaya menyatakan akan ada masa di mana orang-orang akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas. Pedang dan tombak sebagai alat perang itu tidak lagi disimpan untuk dipakai di masa perang, tetapi diubah menjadi alat-alat pertanian.

Perhatikan gambaran yang ditayangkan di sini! Ada perubahan bentuk. Alat-alat perang yang ada di gudang sungguh diubah. Dari alat perang menjadi alat produksi. Dari alat yang membinasakan (pedang), menjadi alat yang menumbuhkan (mata bajak). Dari alat pembunuh (tombak) menjadi alat pemelihara (pisau pemangkas).

Pada titik ini, hidup tak lagi diisi dengan keinginan untuk menghancurkan, tetapi membangun; bukan mematikan, tapi menghidupkan; dan bukan untuk merampas kehidupan, tetapi untuk memberi kehidupan kepada pihak lain. Inilah salah satu tindakan konkret demi tercapainya damai sejahtera. Juga di bumi Indonesia ini.

Mengarah kepada Allah
Semua itu hanya akan terjadi tatkala orang mampu berkata satu sama lain: ”Mari kita pergi ke rumah TUHAN.” (Mzm. 122:1). Pergi ke rumah TUHAN menyiratkan bahwa setiap orang—mengutip syair Ebiet—”mesti telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin.”

Pergi ke rumah TUHAN berarti pula hidup yang mengarah kepada Allah. Allahlah yang menjadi pusatnya! Itu jugalah yang diingatkan Paulus kepada warga jemaat Roma: ”Kita harus melakukan hal-hal terhormat seperti yang biasanya dilakukan orang pada siang hari; jangan berpesta pora melampaui batas, atau mabuk. Jangan cabul, atau berkelakuan tidak sopan. Jangan berkelahi, atau iri hati. Biarlah Tuhan Yesus Kristus yang menentukan apa yang kalian harus lakukan.” (Rm. 13:13-14, BIMK).

Semua nasihat Paulus itu serbakonkret dan praktis. Paulus berkata: Biarlah Tuhan Yesus Kristus menentukan apa yang harus kita lakukan. Mengapa? Karena Dia adalah Tuhan dan kita hamba.
Dengan kata lain, kita hidup dalam hadirat Tuhan. Artinya, hidup seturut dengan kehendak Tuhan karena Tuhan hadir dalam kehidupan kita.

Persoalannya sering kali memang di sini, kita hidup semau kita karena kita menganggap Tuhan tidak hadir dalam kehidupan kita. Padahal Tuhan senantiasa hadir karena Tuhan Mahahadir. Sehingga, logislah jika kita mengamini pesan Paulus tadi: Biarlah Tuhan Yesus menentukan apa yang harus kita lakukan!

Amin.

Yoel M. Indrasmoro

Minggu 24 November 2013

GEMBALA SEJATI VS GEMBALA PALSU

Minggu ini merupakan minggu terakhir dalam kalender gerejawi, disebut pula Minggu Kristus Raja Semesta Alam. Minggu depan kita akan memasuki tahun gerejawi yang baru. Oleh karena itu, kita perlu sungguh-sungguh menilik keberadaan gereja kita selama ini.
Baiklah kita juga mengevaluasi apa yang dilakukan gereja dalam setahun ini. Marilah kita memerhatikan bacaan Alkitab hari ini berdasarkan perspektif hidup menggereja!

GEMBALA PALSU
Pertama, Allah menuntut pertangungjawaban dari para gembala. Perhatikan kecaman Allah melalui nabi Yeremia ini:
”Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!”—demikianlah firman TUHAN. Sebab itu beginilah firman TUHAN, Allah Israel, terhadap para gembala yang menggembalakan bangsaku: ”Kamu telah membiarkan kambing domba-Ku terserak dan tercerai-berai, dan kamu tidak menjaganya.” (Yer. 23:1-2).

Allah mengecam para gembala Israel karena mereka melupakan hakikat mereka selaku gembala. Mereka membiarkan umat Allah hilang dan terserak. Mereka hanya menggembalakan diri mereka sendiri. Mereka hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri.

Para gembala itu melihat domba-domba itu sebagai objek. Objek yang dapat diperlakukan sekehendak hati mereka. Mereka hanya menikmati susunya, bulunya, dagingnya, tetapi lupa melakukan tugasnya sebagai gembala.

Mereka tidak menjalankan tugasnya sebagai gembala. Gembala merupakan kata dasar. Kata kerjanya menggembalakan. Dan kata kerja menggembalakan selalu mengandaikan ada yang digembalakan. Tetapi apa mau dikata, domba-domba yang lemah tidak mereka pelihara, yang sakit tidak mereka obati, yang luka tidak mereka balut, yang sesat dan hilang tidak mereka cari dan bawa kembali. Ringkasnya: mereka tidak bertindak selaku gembala.

Lalu, mengapa mereka masih disebut gembala? Ini pun sesungguhnya sekadar nama. Namanya gembala, namun tidak menjalankan tugasnya sebagai gembala. Dengan kata lain, sebutan itu kosong, tanpa makna.

Mengapa mereka melakukan semuanya itu? Agaknya, mereka memang melupakan status mereka sebagai gembala. Meski mereka adalah gembala, mereka bertingkah laku seperti para pemilik domba. Mereka agaknya lupa bahwa mereka adalah orang-orang yang dipercaya pemilik domba itu sebagai gembala. Mereka telah menyia-nyiakan kepercayaan itu.

Kedua, Allah, Pemilik domba-domba itu, tidak hanya menuntut pertanggungjawaban, tetapi juga menjatuhkan vonis:
”Maka ketahuilah, Aku akan membalaskan kepadamu perbuatan- yang jahat, demikianlah firman TUHAN” (Yer. 23:2).
Ketika para gembala itu tidak lagi menjalankan tugas yang dipercayakan secara bertanggung jawab, Allah mengambil tugas itu dari mereka. Allah mengambil domba-domba yang pernah dipercayakan kepada para gembala itu. Ini merupakan tindakan logis. Tak ada gunanya memberikan kepercayaan kepada orang yang tak layak dipercaya.

Ketiga, para gembala Israel adalah gambaran untuk para pemimpin Israel. Gereja adalah Israel baru. Di minggu terakhir tahun gerejawi ini, perlulah kita bertanya: ”Siapakah sesungguhnya gembala bagi gereja, Israel baru, itu?”
Dengan cepat, kita mungkin menjawab: para pendeta. Jawaban ini tidak sepenuhnya salah. Pastor merupakan istilah Inggris untuk para pendeta. Arti harfiahnya memang gembala.

Sekali lagi, jawaban itu tidak sepenuhnya salah, namun tidak sepenuhnya benar. Dalam lingkungan GKJ, gereja yang menganut pemahaman ”imamat am orang percaya”, kita tidak boleh menyempitkan arti gembala itu hanya pada diri pendeta. Inilah panggilan gerakan reformasi: setiap orang percaya adalah imam.

Dalam struktur GKJ, setiap anggota majelis adalah gembala. Dan tidak hanya itu, setiap komisi juga adalah gembala bagi orang-orang yang mereka layani. Tak boleh pula kita lupa bahwa setiap orang tua adalah gembala bagi anak mereka. Kakak merupakan gembala bagi adiknya.

Dalam perspektif inilah kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah kita telah menjalankan tugas penggembalaan kita dengan sebaik-baiknya. Apakah kita telah menjalankan tugas penggembalaan kita, entah sebagai pendeta, penatua, diaken, komisi, suami, isteri, orang tua, kakak?

Keempat, lalu siapakah umat Allah itu? Umat Allah sangat beragam: kaya-miskin, berpendidikan tinggi-sederhana, normal-cacat. Namun demikian, Allah mengasihi semua umat-Nya tanpa kecuali. Oleh karena itu, gereja juga dipanggil untuk menggembalakan umat Allah itu tanpa kecuali.

Persoalannya, gembala-gembala, entah anggota majelis maupun komisi, sering lebih memerhatikan suara si kaya dan yang berpendidikan tinggi. Suara mereka lebih didengar karena mereka kaya dari segi materi dan dari segi intelek memang mampu mengumandangkan suara mereka secara runtut dan logis.

Suara si miskin, yang sering pula berpendidikan sederhana, kadang tidak masuk hitungan. Lagi pula, mereka memang lebih sering diam berkaitan dengan urusan gereja.

YESUS: GEMBALA SEJATI
Kita perlu belajar dari Gembala Sejati, yang nama-Nya disebut juga TUHAN keadilan kita. Pengertian adil di sini ialah Gembala Sejati itu mencukupi kebutuhan domba-domba-Nya secara khusus. Dia tidak hanya memandang domba itu sebagai suatu kawanan yang seragam, melainkan memerhatikan domba-domba itu satu demi satu. Dia paham kebutuhan masing-masing domba tersebut dan memberikan apa yang mereka butuhkan.

Dan semuanya itu dimulai dengan perhatian. Semasa hidupnya, Ibu Teresa dari Kalkuta berkata, ”Perhatian adalah awal kesucian besar. Bila Saudara belajar untuk memperhatikan kepentingan orang lain, Saudara akan makin menyerupai Kristus. Karena hati-Nya lembut, selalu memikirkan kebutuhan orang lain. Ia berkeliling sambil berbuat baik.”

Dan saat di salib pun, ketika raga tidak mungkin bebas pergi semau sendiri, Yesus Orang Nazaret masih memberikan perhatiannya kepada seseorang yang memohon perhatian dan kasih dari-Nya. Menarik diperhatikan bahwa dalam keadaan menderita pun, Yesus masih memerhatikan orang lain. Dia tidak fokus dengan penderitaannya sendiri, tetapi juga fokus dengan penderitaan orang lain. Bahkan Dia memberikan lebih dari yang diharapkan.

Perhatikan, orang yang disalib bersama Yesus memohon: ”Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Luk. 23:42). Dia ingin diingat. Tetapi, jawaban Sang Guru dari Nazaret: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk. 23:43).

Itu jugalah yang dinyatakan pemazmur: ”Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” (Mzm. 46:2). Jelaslah bahwa orang yang disalibkan bersama Yesus itu merasa lega. Bayangkan jika kita menjadi orang tersebut: bisa jadi kita akan berkata seperti pemazmur tadi.

Dan semuanya itu terjadi karena sikap Gembala Sejati: memerhatikan, mau mati, dan bersama-sama dengan domba-domba-Nya—baik di dunia maupun surga. Dia tidak melupakan domba-domba-Nya.
Amin.

Yoel M. Indrasmoro

Minggu, 17 November 2013

Memang Lidah Tak Bertulang

SATU HARAPAN.COM – ”Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?” (Luk. 21:7). Demikianlah pertanyaan para murid tentang akhir zaman. Yesus, Sang Guru, tidak bicara soal tanda, tetapi mengingatkan para murid untuk waspada.

Sejatinya, bagi setiap orang hari ini adalah akhir zaman karena tak seorang pun bisa memastikan masih bernafas esok pagi. Karena hari ini adalah akhir zaman, siapkah kita menyambutnya? Dan janji Yesus tetap: ”Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk. 21:19).

Selaras dengan itu, Paulus menasihatkan: ”Janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.” (2Tes. 3:13). Tak hanya sekali atau dua kali. Paulus menasihati kita untuk tidak bosan melakukan apa yang baik.

Persoalannya sering di sini: manusia menjadi patah semangatnya saat menyadari bahwa kebaikannya dianggap sepi, bahkan disalahtafsirkan, orang lain. Apa pun situasinya, Paulus mengingatkan kita untuk tidak bosan berbuat baik.

Dan salah satu perbuatan baik adalah menjaga lidah. Kepada para murid-Nya, Yesus menekankan pentingnya menggunakan kata-kata hikmat yang berasal dari Allah. Yesus menegaskan agar ketika bicara para murid tidak mengandalkan hati atau pikirannya sendiri. Di atas semuanya itu, mereka perlu mengandalkan dan menggunakan hikmat Allah (Luk. 21:13-15).

Bicara soal kata, kita tahu bahwa lidah tak bertulang. Karena lidah memang tak bertulang, kita perlu memohon hikmat dari Allah: agar kata-kata kita, meski bernada teguran, tidak menyinggung perasaan; agar kata-kata kita, meski bernada nasihat, tidak terkesan menggurui; agar kata-kata kita mampu meneguhkan, tanpa kesan menganggap rendah orang lain.

Jika memang itu yang kita lakukan, maka baik akhir zaman maupun kematian seharusnya tak perlu membuat kita gentar karena surya kebenaran akan terbit bagi kita (Mal. 4:2a).

Yoel M. Indrasmoro

Minggu, 10 November 2013

Saduki Tak Percaya Kebangkitan

SATU HARAPAN.COM – ”Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia” (Luk. 22:30). Demikianlah pertanyaan beberapa orang Saduki kepada Yesus.

Sejatinya, pertanyaan itu timbul bukan karena mau tahu. Mereka hanya ingin mendapatkan peneguhan akan kepercayaan yang dianut. Orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan. Dan mereka yakin kasus yang mereka ajukan akan membuat Guru dari Nazaret itu mau tak mau mengakui bahwa orang mati tidak akan pernah bangkit.

Pada waktu itu masyarakat Yahudi terbagi dalam tiga golongan. Pertama, golongan Farisi yang sangat menaati perintah Taurat secara rinci. Kedua, golongan Eseni yang mengundurkan diri dari keramaian untuk menyatukan diri dengan Allah dalam doa dan meditasi. Ketiga, golongan Saduki yang terkesan lebih liberal dan kerap melanggar Taurat.

Dengan tegas Yesus berkata, ”Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup” (Luk. 20:38).Dengan penjelasan ini Yesus hendak menyatakan bahwa orang Saduki berpikir menurut pikiran manusia. Mereka agaknya lupa bahwa manusia sesungguhnya hanyalah ciptaan. Dan memang tak gampang bagi ciptaan untuk sungguh-sungguh memahami Allah.

Dalam Alkitab BIMK (Bahasa Indonesia Masa Kini), Yesus menjelaskan: ”Nah, Allah itu bukan Allah orang mati! Ia Allah orang-orang yang hidup! Sebab untuk Allah, semua orang hidup.” Dengan kata lain, orang yang hidup di dunia untuk Allah akan mengalami hidup kekal yang ditujukan bagi Allah. Mereka hidup abadi untuk Allah.

Di sinilah letak masalahnya: orang Saduki tidak ingin hidup untuk Allah, namun di luar aturan Allah. Dan ketidakinginan hidup bagi Allah—seturut dengan kehendak Allah—di dunialah yang membuat mereka akhirnya mengembangkan ajaran bahwa orang mati tidak akan bangkit lagi.

Yoel M. Indrasmoro

Minggu, 3 November 2013

Zakheus Mendapatkan Namanya Kembali

”Hari ini telah jadi keselamatan kepada rumah ini…” (Luk. 19:9). Itulah kalimat yang keluar dari mulut Yesus, yang dengan cermat dicatat Lukas. Menarik disimak hanya Lukaslah yang menulis peristiwa Zakheus, Sang Pemungut Cukai dari Yerikho.

Ya, nama pemungut cukai itu Zakheus. Nama itu merupakan suatu bentuk Yunani dari nama zakkay dalam bahasa Ibrani, yang berarti ”bersih, tidak bersalah”, dan menurut Stefan Leks, biasanya dipakai sejajar dengan ”saddiq”, yang berarti benar. Mengherankan bukan, seorang yang namanya berarti ”bersih, tidak bersalah” ternyata memanggil dirinya sendiri untuk menjadi seorang pemungut cukai?

Para pemungut cukai adalah petugas lembaga fiskal Romawi. Tugas itu dipercayakan kepada orang yang mampu menawarkan paling banyak uang kepada pemerintah penjajah. Dan pada akhirnya, jumlah itu pula yang harus ditagihnya dengan bermacam cara.

Bagaimanapun, seorang pemungut cukai hidup dari selisih orang antara jumlah yang ditetapkan penjajah dan jumlah uang yang berhasil ditagihnya. Artinya, kalau dia berlaku jujur maka dia tidak mendapat gaji. Lebih parah lagi, jika jumlah yang ditagih ternyata beberapa kali lipat lebih banyak dari jumlah yang ditetapkan. Jika memang demikian, tampaknya Lukas pun heran ada pemungut cukai yang tetap saja menyandang nama diri Zakheus. Dalam pekerjaan itu, nama itu telah kehilangan makna.

Kelihatannya, Lukas hendak mencatat bahwa dalam diri Zakheus memang ada sesuatu yang baik. Dia mencari Yesus. Dia ingin tahu orang apakah Yesus itu. Saking penasarannya, dia memanjat pohon ara untuk melihat Yesus.

Zakheus mencari Yesus. Namun, di pihak lain, Yesus pun juga mencari Zakheus. Yesuslah yang menyapa Zakheus terlebih dahulu. Bahkan, Yesus menyatakan bahwa Dia harus menumpang di rumah Zakheus. Dan tindakan Yesus itulah yang membuat iman Zakheus bertumbuh. Tidak hanya dirinya, keluarganya pun merasakan keselamatan.

Pada titik ini, tindakan Zakheus sungguh-sungguh mencerminkan makna namanya yang sebenarnya. Zakheus telah mendapatkan namanya kembali

Yoel M. Indrasmoro

Minggu, 27 Oktober 2013

Dibenarkan Allah

SATUHARAPAN.COM – Perumpamaan tentang Orang Farisi dengan Pemungut Cukai (Luk. 18:9-14) dikemukakan Yesus dalam menanggapi orang yang menganggap diri benar dan memandang rendah orang lain. Persoalan orang Farisi itu ialah menganggap diri benar dan lebih baik ketimbang pemungut cukai.

Tindakan orang Farisi itu pastilah tidak akan melukai hati sang pemungut cukai karena diucapkan dalam hati. Namun, kesucian Allah tak mungkin menoleransi tindakan tersebut! Lagi pula, kesombongan pribadi akan menghancurkan dirinya sendiri.

Sebab, secara tidak langsung, orang Farisi itu menegaskan bahwa dia mampu hidup benar berdasarkan kekuatannya sendiri. Dia tidak butuh orang lain, juga Allah! Dia agaknya lupa pula, kalau pun dia orang pilihan, tentulah ada yang memilihnya. Dan yang memilihnya adalah Allah.

Di bait Allah itu orang Farisi itu sedang memuja dirinya sendiri. Tampaknya, dia lupa bahwa dia sedang berada di rumah Allah. Kemungkinan besar, dia pun lupa akan mazmur ini: ” Bagi-Mulah puji-pujian di Sion, ya Allah; dan kepada-Mulah orang membayar nazar.” (Mzm. 65:2).

Dalam bayangan pemazmur, sungguh merupakan anugerah jika manusia berdosa diperkenankan berhadapan dengan hadirat Allah Yang Mahakudus (Mzm. 65:5) Allahlah yang melayakkan manusia untuk menghadap Dia. Allahlah yang telah membenarkannya.

”Merasa benar” memang berbeda dengan ”dibenarkan” Allah. Dibenarkan berarti dianggap benar. Bukan karena benar—sebab siapa yang sungguh-sungguh benar kecuali Allah?—tetapi karena dianggap benar. Dan inilah anugerah itu: semua manusia berdosa, tetapi Allah membenarkan manusia berdosa karena Dia telah menanggung akibat dosa itu.

Sekali lagi, orang Farisi itu lupa bahwa dia telah dibenarkan Allah sehingga boleh menghadap hadirat-Nya. Karena itu, tak perlulah dia membenarkan diri sendiri; apa lagi menganggap rendah orang lain.

Yoel M. Indrasmoro

Minggu, 20 Oktober 2013

Hukum Bukan untuk Dilanggar, Tetapi Dicintai

SATUHARAPAN.COM – Apakah ciri masyarakat reformasi? Banyak jawaban yang bisa diajukan. Salah satunya, masyarakat makin tidak menaati hukum. Jalan raya merupakan contoh terbaik.

Jika kita amati, begitu banyak pengendara yang makin tidak menghiraukan aturan baku lalu lintas. Meski lampu lalu lintas telah berwarna merah, banyak pengendara motor menerobosnya tanpa rasa bersalah. Polisi terkesan apatis karena jumlah pelanggar cukup banyak.

Jika tidak bisa menerobosnya karena terhalang pengendara dari arah lain, mereka bergerombol melewati batas marka jalan menunggu lampu berubah hijau. Ketika lampu hijau menyala, mereka langsung tancap gas. Hukum makin melemah daya cengkramnya di masa reformasi ini. Tak sedikit orang berpandangan hukum dibuat untuk dilanggar.

Sungguh berbeda dengan pernyataan pemazmur ini: ”Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.” (Mzm. 119:97). Pemazmur melihat hukum bukan untuk dilanggar, melainkan untuk dicintai.

Mengapa? Karena pemazmur merasa dia menjadi lebih bijaksana ketimbang musuhnya, lebih berakal budi ketimbang gurunya, dan lebih mengerti ketimbang orang-orang tua. Dan semuanya itu terjadi kala sang pemazmur berpegang pada hukum Tuhan.

Lagi pula, Taurat Tuhan merupakan manual kehidupan. Tuhan sebagai pencipta manusia pastilah mengetahui seluk-beluk ciptaan-Nya. Sehingga, bersedia tanpa paksaan mengikuti jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya merupakan hal terlogis. Wong Dia pencipta kita, masak kita nggak mau menuruti-Nya?

Yoel M. Indrasmoro

Minggu, 13 Oktober 2013

Sepuluh Penderita Kusta: Mengapa Cuma Satu yang Kembali?

SATUHARAPAN.COM – ”Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?” (Luk. 17:17). Demikianlah tanggapan Yesus atas kembalinya seorang mantan penderita kusta. Ya, mengapa cuma satu orang yang kembali? Tak mudah menjawabnya? Lukas juga tidak menceritakan detail diskusi di antara mereka.

Tetapi, janganlah pula kita cepat menuduh kesembilan orang lainnya itu tak tahu terima kasih! Mungkin mereka ingin secepatnya mendapatkan pengesahan akan kesembuhan mereka. Label tahir dapat membuat mereka berkumpul kembali dengan keluarga. Pengesahan dari imam merupakan kunci penting dalam hidup selanjutnya. Tak heran, jika mereka tak begitu antusias kembali kepada Yesus, yang telah menyembuhkan mereka. Mungkin, mereka pikir Yesus pasti maklum. Bukankah Yesus sungguh peduli akan nasib mereka?

Memang hanya satu orang yang kembali. Bagi dia, persoalan pengesahan imam itu bisa menunggu. Dia hanya ingin memuliakan Allah. Dia menemui Yesus, tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya.

Kedua golongan orang itu mengambil keputusan yang masuk akal. Tak ada yang salah dengan pilihan mereka. Ketika dua pilihan sama benarnya, sama baiknya, dan sama tepatnya, maka yang harus menjadi bahan pertimbangan ialah mana yang tidak bisa menunggu untuk diselesaikan. Dengan kata lain: Mana yang harus dipriotaskan? Dan bicara soal prioritas pastilah hanya satu.

Itulah yang dilakukan orang Samaria mantan penderita kusta. Baginya, pertama, masalah pengesahan imam atas sakit kustanya bisa dicarikan waktu lain. Bukankah dia telah sembuh meski belum disahkan oleh imam? Kedua, dia agaknya tahu bahwa Yesus adalah Guru yang berkelana. Ketimbang para imam, Yesus jelas lebih sulit ditemui. Ketiga, agaknya orang Samaria tadi berpendapat, jangan tunda untuk melakukan kebaikan. Berterima kasih adalah sebuah tindakan baik. Dan dia tidak ingin menundanya.

Yoel M. Indrasmoro

Minggu, 6 Oktober 2013

TUHAN ADALAH SANG PENGUASA DAN PENENTU KEHIDUPAN

”Ya TUHAN, sampai kapan aku harus berseru meminta pertolongan? Kapan Engkau akan mendengar dan menyelamatkan kami dari penindasan? Mengapa Kaubiarkan aku melihat begitu banyak kejahatan? Masakan Engkau tahan melihat begitu banyak pelanggaran? Di mana-mana ada kehancuran dan kekerasan, perkelahian dan perselisihan. Hukum diremehkan dan keadilan tak pernah ditegakkan. Orang jahat menjadi unggul atas orang yang jujur, maka keadilan diputarbalikkan,” (Hab. 1:2-4, BIMK)

Demikianlah ratapan Nabi Habakuk berkait dengan keadaan bangsanya. Di mata Habakuk situasi dan kondisi Kerajaan Yehuda sungguh mengenaskan. Bangsa yang mengaku diri sebagai bangsa yang diselamatkan Allah—sehingga boleh memakai gelar umat Allah itu—ternyata tidak hidup sebagai bangsa yang telah diselematkan Allah. Habakuk adalah saksi bagaimana kejahatan semakin marak; di mana-mana ada kehancuran dan kekerasan, perkelahian dan perselisihan. Umat merasa lebih tinggi dari hukum sehingga mereka meremehkannya dan keadilan tak pernah ditegakkan. Bahkan, orang jahat karena uang bisa menang di pengadilan ketimbang orang yang jujur.

Dan karena situasi dan kondisi itulah, Habakuk mengeluh kepada Tuhan. Pada titik ini, Habakuk sedang mempertanyakan Tuhan, yang tampaknya tidak berbuat apa-apa. Perhatikan keluhan Habakuk: ”Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ’Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.”

Pada titik ini, bisa diandaikan bahwa Habakuk juga sedang menjadi wakil umat yang bertanya: ”Apakah umat Allah harus tetap hidup sebagai umat Allah? Kalau menjadi orang baik itu susah—dan kelihatannya Tuhan diam saja—lalu mengapa kita tetap berusaha menjadi orang baik? Apakah nggak sia-sia namanya?”

Tak mudah memang menjadi umat Allah dalam situasi bangsa Yehuda pada abad VI SM. Mungkin perasaan umat Allah seperti apa yang dinyatakan Ranggawarsita dalam Serat Kalatida: amenangi zaman édan, éwuhaya ing pambudi, mélu ngédan nora tahan, yén tan mélu anglakoni, boya keduman mélik, kaliren wekasanipun… (menyaksikan zaman gila, serba susah dalam bertindak, ikut gila tidak akan tahan, tapi kalau tidak mengikuti (gila), tidak akan mendapat bagian, kelaparan pada akhirnya).

Syair tadi menurut analisis seorang penulis bernama Ki Sumidi Adisasmito adalah ungkapan kekesalan hati pada masa pemerintahan Pakubuwono IX yang dikelilingi para penjilat yang gemar mencari keuntungan pribadi. Syair tersebut masih relevan hingga zaman modern ini di mana banyak dijumpai para pejabat yang suka mencari keuntungan pribadi tanpa memedulikan kerugian pihak lain.

Pada hemat saya, agaknya situasi hati yang kurang lebih sama juga menghinggapi sebagian besar rakyat Indonesia abad XXI. Rakyat menjadi apatis dengan para pemimpinnya; bisa dilihat bagaimana orang kurang antusias untuk terlibat dalam pemilu kepala daerah. Dan yang lebih gawat adalah ketika orang merasa boleh melakukan apa saja karena pemerintah sudah tak lagi punya gigi. Lalu, bagaimanakah seharusnya sikap kita.

Menarik disimak, setelah meratap Habakuk mengambil inisiatif: ”Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku” (Hab. 2:1).

Yang dilakukan Habakuk adalah berkomunikasi dengan Allah. Habakuk sengaja naik ke tempat tinggi untuk menantikan apa yang difirmankan Allah. Habakuk ingin mendengar suara Allah. Meski Habakuk mengeluh kepada Allah, dan merasa Allah diam menyaksikan keadaan bangsanya, dia tetap ingin mendengarkan suara Allah.

Dan itu jugalah yang diingatkan Ranggawarsita: ”Ndilalah kersa Allah,begja-begjaning kang lali, luwih begja kang éling klawan waspada” (namun telah menjadi kehendak Allah, sebahagia-bahagianya orang yang lalai,akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada).

Habakuk agaknya tetap sadar yang paling penting dalam diri manusia ialah tetap ingat bahwa dirinya adalah hamba Allah. Dan hamba Allah harus bertindak sebagai hamba Allah. Dan hamba Allah harus seturut dengan kehendak Allah. Jadi, Habakuk berikhtiar untuk menantikan suara Allah.

Lalu, apa yang dikatakan Allah? ”Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya” (Hab 2:2). Allah meminta Habakuk untuk menulis. Menulis dengan jelas dan lugas agar orang dapat memahaminya meski membacanya sambil lalu.

Menarik disimak, berkait dengan situasi dan kondisi Yehuda, Allah menekankan pada pentingnya pembelajaran. Dan dalam pembelajaran yang tak kalah pentingnya adalah bahan ajar. Habakuk diminta untuk membuat bahan ajar dengan teknis yang bagus sehingga orang yang nggak mau belajar bisa memahaminya.

Bagaimana dengan Indonesia sekarang ini? Kabar baik harus diceritakan. Bukan kabar namanya jika tidak dituturtinularkan. Kebaikan kabar itu menuntut manusia untuk mengabarkannya terus. Kebijakan masa lampau dan harapan masa depan berteriak untuk dikumandangkan.

Habakuk tinggal di tengah kehancuran bangsa, namun, ia melihat tujuan Allah dan mendengar suara Allah, ”Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya.” Visi Allah harus ditulis secara jelas agar orang dapat sungguh-sungguh merasakan kebaikan dari kabar baik itu. Jangan sampai, ketidakjelasan malah membuat orang meragukan kebaikan dari Kabar Baik itu.

Pembelajaran menjadi hal yang mutlak perlu. Dan hanya dengan cara itulah umat Allah diperlengkapi untuk tetap mampu bertindak sebagai hamba Allah. Dan itulah kita cara kita mengakui bahwa Allah adalah penguasa dan penentu kehidupan kita.

Gereja yang belajar. Sejatinya itulah yang harus terus kita kumandangkan di tengah situasi dan kondisi bangsa yang makin memburuk. Jawaban dari proses reformasi yang hingga kini belum selesai adalah bahwa kita harus menyiapkan generasi muda untuk makin memahami apa artinya menjadi Kristen di Indonesia pada abad XXI.

Gereja harus menyiapkan bahan ajar yang memadai, yang membuat naradidik menjadi haus ilmu. Belajar Iman Kristen seharusnya perlu diupayakan dengan cara yang menyenangkan. Sehingga semakin banyak orang yang tertarik dan akhirnya sungguh-sungguh memahami imannya dan hidup dalam imannya itu (lih. Hab. 2:4). Dan inilah jawaban jitu dari situasi negeri yang semakin parah ini.

Yoel M. Indrasmoro

Minggu, 29 September 2013

Urip Mung Mampir Ngombe

SATUHARAPAN.COM – Perumpamaan ”Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin” (Luk. 16:19-31) memperlihatkan bahwa kehidupan dunia berpengaruh besar terhadap kehidupan pascadunia. Ada peribahasa: ”siapa yang menabur angin akan menuai badai”.
Berkait dengan itu, manusia Jawa memiliki pepatah ”urip mung mampir ngombe”. Artinya: hidup itu singkat, seperti orang sedang mampir minum. Hanya sebentar. Setelah kehidupan singkat, ada kehidupan lain yang lebih kekal sifatnya. Karena itu, bijaklah dalam mengisi waktu.

Manusia tak hidup selamanya di dunia. Semua ada waktunya. Ada waktu lahir, ada waktu meninggal. Tak seorang pun, entah kaya entah miskin, yang bisa mengelakkan diri dari kematian. Namun, waktu—meski singkat—bukan tanpa konsekuensi. Allah menuntut pertanggungjawaban manusia atas waktu yang dikaruniakan-Nya. Dan Orang Kaya dalam perumpamaan itu menuai dari apa yang dilakukannya di dunia.

Tak ada salahnya menjadi orang kaya, apalagi jika kekayaan itu bukan hasil kejahatan. Persoalannya, orang kaya itu tak peka dengan lingkungannya. Tampaknya, orang kaya itu membiarkan Si Miskin tetap dalam kemiskinannya. Pada masa itu, orang-orang kaya biasa mengelap tangan mereka bukan dengan serbet, tetapi roti. Dan roti bekas lap tangan itulah yang dimakan Lazarus!

Bahkan, di akhirat pun orang kaya itu dengan angkuhnya meminta Abraham agar menyuruh Lazarus menolong dirinya. Bagi dia, Lazarus hanya pantas menjadi pesuruh. Meski nasibnya terbalik, si kaya itu tetap merasa lebih tinggi ketimbang Lazarus.

Ketika masih hidup orang kaya itu agaknya tak butuh apa-apa—juga Allah! Ia tak peduli ada orang yang kelaparan dan sakit di dekat pintu rumahnya. Sebetulnya ia bisa berbuat baik kepada Lazarus. Sedikit kebaikan takkan mengurangi kekayaannya. Tetapi, itulah yang tidak dilakukannya. Dia membiarkan keadaan tetap dalam status quo. Dan pembiaran semacam itu—dalam hidup yang mung mampir ngombe—sungguh tidak diperkenan Allah!

Yoel M. Indrasmoro

Minggu, 22 September 2013

PELAJARAN DARI PERUMPAMAAN TENTANG BENDAHARA KORUP

SATUHARAPAN.COM – Perumpamaan mengenai bendahara korup (Luk. 16:1-13) menarik disimak. Kelakuannya—menyalahgunakan kepercayaan—memang tak patut. Cara dia memecahkan masalah juga salah. Tetapi, Yesus memujinya. Mengapa? Karena dia peka akan masa depannya dan cekatan mengambil tindakan nyata.
Nasibnya jelas: dia telah dipecat. Tentang masa depannya, dia cukup tahu diri. Perhatikan solilokuinya: ”Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu” (Luk. 16:3).

Masa depannya gamblang: nggak mungkin bertani, apalagi ngemis. Penglihatan akan masa depan itu tidak membuatnya berpangku tangan. Dia ingin selamat. Itulah visinya sekarang. Agar tetap hidup, dia harus berbuat sesuatu. Dia mengambil hati orang-orang yang mempunyai utang terhadap tuannya. Tindakannya itu membuat dia berpiutang budi.
Visi yang kuat mendorongnya untuk melakukan aksi. Visi tanpa aksi hanyalah impian. Aksi tanpa visi cuma kegiatan tanpa arah. Visi harus diwujudkan. Jika tidak, visi tak ubahnya bunga tidur. Tiada guna visi tanpa realita. Itu sama halnya dengan pepesan kosong. Dan dunia berubah karena visi maujud dalam aksi.

Perumpamaan Yesus ini mengingatkan para murid-Nya untuk tak hanya memikirkan masa depan, tetapi mampu bertindak nyata di masa kini. Kita perlu belajar dari bendahara korup yang mampu melihat ke depan, memperhitungkan realitas, dan bertindak secara tepat pada masa kini.

Kita memang tak tahu masa depan. Namun, kita dapat mewarnainya hari ini. Jika kita mewarnainya dengan warna-warni suram, maka suramlah masa depan kita. Jika kita mewarnainya dengan warna-warni cerah, maka cerahlah masa depan kita.
Anda ingin masa depan cerah? Warnailah masa kini Anda dengan warna-warni cerah! Percayalah!

Yoel M. Indrasmoro

Minggu, 15 September 2013

Allah: Pribadi yang Mau Repot

SATUHARAPAN.COM – ”Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” (Luk. 15:4).

Dalam perumpamaan-Nya, Yesus menegaskan bahwa Allah—sebagaimana lazimnya gembala—adalah Pribadi yang peduli. Dia tahu tabiat domba yang suka mencari jalan sendiri, tak mau diatur, dan menganggap diri selalu benar. Tetapi, Dia juga tahu bahwa domba merupakan makhluk ringkih, yang akan mati kelaparan atau diterkam serigala jika tidak segera ditemukan.
Tak hanya peduli, Allah juga Pribadi yang mau repot. Dia meninggalkan kawanan domba, untuk mencari yang satu ekor itu. Dia ingin kawanan domba-Nya kembali utuh. Di kalangan Yahudi, angka 10 melambangkan keutuhan. Dan 100 adalah 10 kali 10. Sehingga, hilangnya seekor domba menjadikan kawanan itu tak utuh lagi. Allah mencari yang satu itu agar keutuhan itu pulih.

Mengapa Allah lebih menyukai pertobatan manusia? Bukankah Dia, Yang Maha Kuasa, tidak akan kekurangan apa pun, seandainya satu orang hilang? Apa lagi, jika dibandingkan 99 orang, bukankah Dia dapat mengabaikan yang satu itu?
Itulah logika manusia. Bukankah hanya satu persen yang hilang? Toh, masih ada 99 persen yang tetap ada. Dalam logika Allah, satu persen itu menjadi signifikan—penting dan bermakna—karena Allah yang sempurna senantiasa ingin kesempurnaan umat-Nya. Memang cuma satu persen. Tetapi, tanpa yang satu persen itu, tak pernah akan mencapai kesempurnaan: 100 persen.

Manusia mungkin berkata, ”Cuma satu, ngapain repot-repot!” Namun, ”Jika Allah tak mau repot, bagaimana nasib Anda dan saya?

Yoel M. Indrasmoro

Minggu 8 September 2013

Kesempatan dari Sang Tukang Periuk

SATUHARAPAN.COM – ”Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!” (Yer. 18:6).

Allah mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Tukang Periuk. Sebagai Tukang Periuk, jelaslah pertama, Allah adalah pribadi yang mengasihi ciptaan-Nya dan menginginkan yang terbaik dalam diri ciptaan-Nya. Oleh karena itu, Allah menciptakan manusia seturut citra-Nya, termasuk menganugerahkan kehendak bebas, yang membuat manusia berbeda dari robot.

Allah sungguh memahami bahwa dengan kehendak bebasnya itu manusia bisa salah langkah. Namun, di mata Allah salah langkah bukan aib. Yang aib adalah tatkala manusia tak mengakui kesalahlangkahannya dan menganggap diri benar.
Kedua, ketika manusia mengakui kesalahannya, Allah bersedia memperbaikinya. Seperti tukang periuk, Allah tak akan membuang bejana-bejana yang rusak. Dia masih memberi kesempatan dengan cara memperbaikinya. Dia akan menyempurnakan manusia seturut apa yang baik menurut pemandangan-Nya.

Ketiga, penyempurnaan kembali pastilah makan waktu, kadang menyakitkan. Pertanyaannya: Apakah manusia mau dibentuk dan percaya bahwa yang dilakukan Allah baik semata?

Itu jugalah inti Kitab Filemon. Filemon adalah pengusaha sukses yang rumahnya menjadi tempat berkumpulnya orang percaya di Kolose. Paulus meminta Filemon untuk memberi kesempatan kedua kepada budaknya Onesimus. Tampaknya Onesimus adalah budak yang telah melarikan diri dari Sang Tuan. Dan itu jelas merugikan Filemon. Dalam pelariannya, Onesimus bertemu dengan Paulus, bahkan menjadi muridnya.

Paulus meminta Filemon untuk mengampuni Onesimus. Dan tentu saja, Onesimus belajar mempertanggungjawabkan kesalahannya dengan memohon pengampunan majikannya. Paulus seakan menyatakan: jika Allah memberikan kesempatan kepada manusia, masak manusia kagak?

Yoel M. Indramoro

Minggu, 1 September 2013

Di Atas Langit Ada Langit

SATUHARAPAN.COM – ”Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk. 14:11). Demikianlah nasihat Yesus kepada para murid-Nya. Namun, itu bukanlah sikap rendah diri, Sang Guru sedang menekankan kerendahan hati. Kerendahan hati berdasarkan pemahaman bahwa di atas langit, masih ada langit. Dan sikap rendah hati, menurut Yesus, akan lebih menguntungkan ketimbang tinggi hati.

Menurut William Barclay, meski Thomas Hardy begitu terkenal sehingga setiap koran akan memuat naskahnya, dia senantiasa menyertakan perangko dan amplop yang sudah diberi alamat untuk menjaga kemungkinan jika naskahnya tidak dimuat. Thomas Hardy tidak berasumsi bahwa setiap naskahnya pasti akan dimuat. Sebuah langkah jitu. Jika naskahnya ditolak, dia tak akan sakit hati.

Dalam bukunya Golok Pembunuh Naga dan Pedang Langit, Ching Yung berulang kali menyatakan bahwa seorang gagah akan melihat kegagahan dalam diri orang lain. Dua orang besar akan saling menghargai satu sama lain. Sedangkan pertemuan dua orang yang bersifat kerdil dan berpikiran sempit hanya berbuahkan pertarungan—untuk membuktikan siapa yang lebih hebat.

Sejatinya, sikap tinggi hati setali tiga uang dengan rendah diri. Biasanya, orang rendah diri akan menutupi ketidakpercayaan dirinya dengan mengambil sikap sombong. Sebaliknya, orang rendah hati biasanya mempunyai rasa percaya diri tinggi karena telah mampu menerima kelemahan dan kekuatannya secara wajar. Sehingga dia mampu menerima kelemahan dan kekuatan orang lain.

Jika tak mampu menerima kelemahan sendiri, jangan harap kita mampu menerima kelemahan orang lain—ujung-ujungnya penghakiman. Sebaliknya, hanya orang yang mampu menerima kekuatan dirinyalah yang akan mampu menerima kekuatan orang lain—sehingga jauh dari rasa iri!

Yoel M. Indrasmoro