Minggu, 2 Januari 2011

MENYATAKAN KEMURAHAN ALLAH

Ketika seseorang bertanya kepada Dietrich Bonhoeffer, ”Siapakah Anda?”; Teolog Jerman yang mati pada tiang gantungan dalam pemerintahan Nazi menjawab, ”Saya adalah milik-Mu, ya Tuhan!”
Kita tentu mengamini jawaban macam begini. Namun, ini yang perlu sungguh-sungguh kita simak sekarang, apa artinya ungkapan ”milik Tuhan”?

MILIK ALLAH
Di awal Mazmur 147, pemazmur menegaskan bahwa Israel adalah milik Allah. Allah diperkenalkan sebagai Pribadi yang membangun, mengumpulkan umat yang tercerai-berai, menyembuhkan orang-orang yang patah hati, menegakkan kembali orang yang tertindas.Allah diperkenalkan sebagai Pribadi yang peduli terhadap umat-Nya. Mengapa? Karena Israel adalah milik Allah!
Tak heran, jika pemazmur berseru kepada umat Israel: ”Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu. Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik.” (Mzm. 147:12-14).
Sekali lagi, itu dilakukan Allah karena Israel adalah umat milik-Nya; umat kepunyaan-Nya. Bahkan, pemazmur menutup mazmurnya dengan pengakuan: ”Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal.” (Mzm. 147:20).
Itu jugalah yang dinubuatkan Yeremia bagi umat yang dalam pembuangan: ”Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur mereka dan menyukakan mereka sesudah kedukaan mereka. Aku akan memuaskan jiwa para imam dengan kelimpahan, dan umat-Ku akan menjadi kenyang dengan kebajikan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” (Yer. 31:13-14).
Perhatikan: ”Aku akan mengubah, Aku akan menghibur, Aku akan memuaskan, dan umat-ku akan menjadi kenyang.” Nubuat itu memang belum terjadi; digunakan ”akan” dalam kalimat tadi. Dan itulah pengharapan Israel di pembuangan. Mengapa? Sekali lagi, karena Israel adalah milik Allah!
Perhatikan ungkapan ”umat-Ku”! Jelas dari ungkapan ini bahwa Israel adalah milik Allah. Dan karena Israel adalah milik Allah, maka Allah akan melakukan apa saja demi kesejahteraan Israel.

YESUS: PUNCAK PENGHARAPAN ISRAEL
Dan harapan Israel itu terwujud dalam diri diri Yesus Kristus. Nubuat itu tergenapi sudah dalam diri Yesus Kristus—Allah yang menjadi manusia. Penginjil Yohanes bersaksi: ”Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia….” (Yoh. 1:16).
Nah, ”kita” yang dimaksud di sini adalah Israel Baru. Pada kenyataannya, Israel sebagai umat pilihan Allah memang tidak mampu mempertahankan identitas mereka sebagai umat pilihan.
Kisah Israel adalah kisah sebuah bangsa yang menganggap remeh pilihan Allah itu. Mereka melupakan hidup sebagai umat ”milik Allah”. Istilah ”milik Allah” itu sekadar label, tanpa tindakan nyata. Padahal, Israel dipanggil menjadi milik Allah agar menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Tak heran, Allah membuang mereka ke Babel.
Dalam pembuangan di Babel, sebagaimana nubuat Yeremia, mereka berharap dipulihkan. Kenyataannya memang demikian. Sejarah mencatat, umat Israel kembali ke Yerusalem. Namun, mereka tidak mampu mempertahankan identitas mereka sebagai umat pilihan—”milik Allah”.
Itu jugalah kesaksian Yohanes: ”Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” (Yoh. 1:11-13).
Status ”milik Allah” itu akhirnya diberikan kepada orang-orang yang mau menerima-Nya. Orang-orang yang menerimanya itu disebut Israel Baru. Nah, kitalah—Saya dan Saudara—Israel Baru! Kita diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah—menjadi milik Allah. Dan sebagai ”milik Allah”, ”kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia….” (Yoh. 1:16).
Kehadiran Allah di dunia tidaklah sekadar memancarkan kemuliaan-Nya. Lebih dari itu, Allah merupakan Pribadi yang menganugerahkan kasih karunia demi kasih karunia.
Perhatikanlah kasih karunia demi kasih karunia. Itu berarti anugerah Allah itu tidak seperti air bah, tetapi laksana hujan rintik-rintik; sedikit demi sedikit. Dengan kata lain, penganugerahan itu bersifat ajeg, tak terputus. Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Ia penuh kasih; tiada hentinya Ia memberkati kita.” (Yoh. 1:16).

UTUSLAH AKU
Itu jugalah yang dinyatakan oleh Paulus kepada jemaat di Efesus: ”Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” (Ef. 1:3).
Namun, semuanya itu bukan tanpa tujuan. Penganugerahan berkat itu bertujuan agar semakin banyak orang merasakan kasih karunia Allah melalui umat-Nya.
Hal itu senada dengan tema dwitahunan kita selaku gereja, yaitu: ”Utuslah Aku!”. Jika pada 2009-2010, tema dwitahunan GKJ Jakarta adalah ”Menjadi Saksi”, maka pada 2011-2012, GKJ Jakarta ingin mengembangkan diri sebagai gereja yang siap diutus. Dengan kata lain, kita tak hanya mengarahkan dan memikirkan diri sendiri, tetapi juga mengarahkan dan memikirkan orang lain.

BELAJAR DARI SEJARAH
Sebenarnya, Ibu dan Bapak GKJ Jakarta telah menggumuli tema ini di masa-masa lampau. Beberapa hal bisa dicatat di sini.
Pada 1949, GKJ Jakarta melibatkan diri dalam pekerjaan pekabaran Injil di Lampung dengan menjadi gereja pengutus Pdt. J. S. Hardjowasito. Berkait dengan itu, Majelis GKJJ membentuk Komisi Zending untuk Lampung, yang berkembang menjadi Zending Sumatera. Buahnya adalah Sinode GKSBS (Gereja-gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan).
GKJJ menjadi gereja pengutus untuk pekabaran Injil melalui tulisan dan buku-buku. Tenaga ahli dalam bidang tersebut ialah Dr. J. Verkuyl, pendiri BPK Gunung Mulia, yang bekerja selama 10 Tahun (1952-1962). Selanjutnya, Verkuyl menjadi rektor STT Jakarta. Jadi, tak salah jika kita katakan bahwa GKJ Jakarta terlibat erat dalam pembentukan BPK Gunung Mulia.
GKJ Jakarta, melalui para pemimpin gerejanya, banyak terlibat dalam organisasi-organisasi gerejani yang lebih luas, mulai dari pendirian Taman Pustaka Kristen, Universitas Kristen Indonesia, PSKD, Harian Sinar Harapan, Yamuger, Partai Kristen Indonesia (Parkindo), dan PGI.
Jika pada masa lalu banyak pemimpin Kristen (GKJ Jakarta ada di dalamnya) yang diakui berskala nasional, bukan karena saat itu kita mayoritas, tetapi karena kita punya kepedulian dan terlibat dalam kancah nasional.
GKJ Jakarta memahami bahwa tugas panggilannya bukan hanya ”mengurus warganya” tetapi juga melakukan ”kesaksian dan pelayanan secara modern” di kota besar Jakarta Raya dengan berbagai risikonya. Karena itu—misalnya—lahirlah diakonia modern dalam bentuk Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala dan Yayasan Mitayani (1970-an).
Pertanyaannya: bagaimanakah sikap dan hubungan kita terhadap yayasan-yayasan ini? Atau, jangan-jangan karena telah mendirikan yayasan, kita menjadi tidak merasa perlu lagi peka dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Jadi, semuanya kita serahkan ke yayasan tersebut?

MENJADI GEREJA UNTUK ORANG LAIN
Dari Sejarah kita bisa melihat hakikat GKJ Jakarta. Sejak awal GKJ Jakarta memandang keberadaan dirinya bukanlah untuk diri sendiri, tetapi untuk masyarakat yang lebih luas. Bagaimanapun, mengurus diri sendiri merupakan panggilan seumur hidup. Mana ada di antara kita yang tidak mengurus keperluan sehari-hari?
Sekali lagi, menjadi milik Allah berarti siap menjadi saluran berkat. Menjadi milik Allah berarti siap berkarya di mana pun Tuhan menempatkan kita. Sebab, di mana pun kita berada, frasa ”milik Allah” erat melekat dalam diri kita masing-masing.
Itu jugalah yang dinyatakan oleh Dietrich Bonhoeffer: ”Gereja baru menjadi gereja yang benar kalau dia hadir untuk orang lain. Untuk dapat melakukan hal itu, Gereja harus memberikan segala yang dia miliki kepada mereka yang berkekurangan.”
Bonhoeffer mengecam gereja yang hanya memperjuangkan keselamatan dirinya sendiri. Pada masa itu, gereja-gereja di Jerman malah mendukung apa yang dilakukan Nazi di bawah kepemimpinan Hitler. Dengan tegas dia menyatakan: ”Hanya mereka yang bersuara membela kaum Yahudi boleh menyanyikan lagu Gregorian.”
Itulah makna konkret ”milik Allah”! Apakah kita merasa sebagai milik Allah? Jika ya, buktikanlah dengan cara memperhatikan orang lain! Mengapa? Karena kita telah lebih dahulu diperhatikan oleh Allah.
Amin.

YOEL M. INDRASMORO

Iklan

Minggu 26 Desember 2010

Peka akan Suara Allah
Bagaimanakah perasaan keluarga muda itu—Yusuf dan Maria—ketika mendapat kunjungan para Majusi dari Timur? Bisa dipastikan mereka kaget sekaligus bangga. Kaget karena mereka kedatangan tamu, yang memang bukan orang sembarangan. Tamu mereka adalah raja-raja dari Timur. Lebih mengagetkan hati, orang-orang asing itu ternyata mencari bayi mereka hanya dengan satu tujuan—yakni menyembah-Nya.
Perhatikan catatan Matius: ”Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Mat. 2:2)! Pertanyaan itu membuat orang-orang di Yerusalem gempar. Sebab, Herodes sudah sangat tua dan tak ada kabar bahwa dia telah mempunyai seorang anak lagi.
Pertanyaan para Majusi itu pastilah mengagetkan hati banyak orang, terutama Herodes karena dia termasuk orang yang gila hormat dan kuasa. Sampai-sampai dia memusnahkan silsilahnya untuk menghapus jejak jati diri yang sesungguhnya. Setiap orang yang dirasakan sebagai ancaman terhadap takhtanya disingkirkannya, termasuk istri dan anak.
Dan memang itulah yang dilakukan para Majusi ketika bertemu Yesus. Penginjil Matius mencatat: ”Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” (Mat. 2:10-11).
Ya, orang Majus yang merupakan ahli perbintangan, dan banyak yang menyebutnya sebagai raja-raja Timur itu, menyembah Yesus. Tak hanya menyembah, mereka juga mempersembahkan persembahan!
Bukan memberikan persembahan lho! Tetapi mempersembahkan persembahan. Memberikan berarti kita berada pada posisi yang lebih tinggi. Memberikan berarti saya di atas. Sedangkan mempersembahkan berarti kita berada pada posisi yang lebih rendah. Telapak tangan menghadap keatas. Allah adalah pemilik alam semesta. Mempersembahkan berarti kita menyadari apa yang kita miliki berasal dari padanya semata.
Wajar bukan jika keluarga muda itu merasa bangga? Anak mereka sungguh bukan orang sembarangan. Orang-orang asing pun merasa perlu mencari untuk menyembah-Nya.

Hidup Penuh Risiko
Tetapi, kebanggaan itu tak berlangsung lama. Setelah orang-orang asing itu pergi, mereka juga harus pergi. Bukan piknik. Mereka harus mengungsi ke Mesir. Yusuf dan Maria harus menyelamatkan Anak Kebanggaan karena Herodes, raja gila kuasa itu, ingin membunuhnya. Malam itu juga pergilah keluarga muda itu ke Mesir.
Kita tak pernah tahu bagaimana perasaan Yusuf dan Maria. Suasananya memang seperti roalcoaster. Naik-turun. Baru saja mereka mendapatkan kenyataan bahwa anak mereka disembah oleh orang asing, sekarang mereka harus menjadi pelarian.
Penulis Injil Matius tak merasa perlu menceritakan perasaan keduanya. Namun, memang itulah maksud penulis. Dia tidak bermaksud agar pembacanya terharu menyaksikan perjuangan keluarga muda itu. Sekali lagi, memang bukan itu maksud penulis.
Penulis agaknya ingin menyatakan bahwa hidup manusia tak lepas dari risiko. Bahkan, orang-orang pilihan Allah, yang rindu menjalani kehendak Allah pun, tak bebas dari kesulitan hidup. Inilah yang terjadi dalam diri keluarga muda itu. Mereka adalah orang-orang pilihan. Tetapi, keberadaan sebagai orang-orang pilihan itu tidak membebaskan mereka dari kesulitan hidup.

Peka dan Menjalani Kehendak Allah
Namun, penginjil Matius juga mencatat bahwa orang-orang pilihan dapat bertahan, bahkan mengatasi kesulitan hidup, jika mereka peka akan suara suara Allah.
Itulah yang dilakukan Yusuf. Dia tidak menganggap mimpinya sebagai bunga tidur. Tidak. Dia peka akan suara Allah sehingga dia mampu mengatasi bencana yang menimpanya.
Perhatikanlah, Yusuf senantiasa peka akan suara Allah dan menjalani kehendak-Nya tanpa syarat. Dia tidak berupaya menawar perintah Allah. Dan itulah yang seharusnya dilakukan setiap orang yang merasa dirinya sebagai hamba Allah.
Yusuf selalu berupaya melakukan apa yang diperintahkan Allah. Perhatikan: ketika malaikat Tuhan memerintahkan Yusuf untuk tetap menjadi suami Maria, dia taat; ketika malaikat Tuhan meminta Yusuf untuk menyelamatkan anak dan istrinya, dia taat; dan ketika malaikat Tuhan memerintahkan Yusuf untuk kembali ke Israel, dia pun taat.
Bahkan, Yusuf secara sadar, karena dinasihati dalam mimpi, Yusuf tinggal di Nazaret. Itu menjadi penting karena Yusuf ingin menggenapi kehendak Allah dalam diri-Nya. Sehingga nantinya Yesus disebut juga orang Nazaret.

Mengandalkan Allah
Mengapa Yusuf melakukan semuanya itu? Di satu sisi dia memang taat kepada Allah, namun di sisi lain Yusuf tengah mengandalkan Allah. Karena percaya kepada Allah, Yusuf menaati Allah; dan taat kepada Allah berarti Yusuf sungguh-sungguh mengandalkan Allah. Dan karena mengandalkan Allah, maka Allah pun akan menolongnya (Mzm. 148).
Perhatikan kenyataan ini! Sebagai pelarian tentu butuh modal. Dari manakah modal itu didapat? Saya menduga dari persembahan orang-orang Majus tadi. Jelaslah, jika kita berupaya memenuhi kehendak Allah, maka Allah pun akan menolong kita agar kehendak-Nya tergenapi!
Ketika manusia peka akan suara Allah, dan menjalani kehendak Allah, maka Allah sendirilah yang akan menyelamatkannya. Perhatikan nubuat Yesaya: ”Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu.” (Yes. 63:9).
Baik disimak bahwa nama Yesus sama dengan Yesaya! Yesus bahasa Aram; Yesaya bahasa Ibrani. Kedua nama itu berarti Allah menyelamatkan! Dan penulis Ibrani menegaskan bahwa Yesus sungguh mampu dan mau menolong karena Dia pernah merasakan semua pencobaan itu. (Ibr. 2:18).
Sejatinya inilah penghiburan terbesar. Allah kita sungguh memahami penderitaan manusia. Mengapa karena Dia pernah merasakan penderitaan sebagai manusia. Karena Dia pernah merasakan penderitaan yang sama dengan kita, pastilah Dia akan menolong kita. Setidaknya, Yesus akan menyertai kita dalam menjalani kehidupan kita.
Bukankah nama-Nya Imanuel—Allah menyertai kita?
Amin.
Yoel M. indrasmoro

Natal

Terang yang Sesungguhnya sedang Datang ke dalam Dunia

Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. (Yoh. 1:9)
Nada dari tema Natal malam ini adalah kekinian. Perhatikan: ”Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia”! Sedang berarti masih berlangsung. Belum selesai! Tema ini begitu relevan dengan kekinian karena kata ”sedang” yang dipakai di sini.
Tentu bukan tanpa maksud jika penulis Injil Yohanes menyatakan hal ini. Dan pasti pula bukan tanpa maksud jika PGI dan KWI menjadikannya sebagai Tema Natal bersama 2010. Mari kita telaah tema ini!

Terang
Terang merupakan sumber kegembiraan manusia. Manusia pada hakikatnya makhluk terang. Manusia dicipta Allah sebagai makhluk yang membutuhkan terang. Manusia normal paling banter hanya betah lima sampai delapan jam dalam kegelapan—yaitu ketika dia tidur. Dalam keadaan melek manusia normal butuh terang.
Tak heran jika Yesaya bernubuat: ”Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan.” (Yes. 9:1-2).
Yesaya bernubuat, terang itu membuat manusia bersorak-sorak. Mereka tak lagi hidup dalam kelam. Mereka tak lagi meraba-raba dalam gelap. Terang menolong mereka untuk mengambil keputusan secara tepat dalam hidup. Terang membuat mereka merasa lebih pasti dalam mengambil keputusan!
Agaknya, bukan tanpa maksud, jika pada hari pertama kisah penciptaaan Allah berfirman, ”Jadilah terang!” Dan penciptaan itu ternyata lebih dahulu ketimbang benda-benda langit—matahari, bulan, dan bintang! Itu berarti terang merupakan hal istimewa.
Berkait dengan terang, kata orang, salah satu picu peradaban manusia ialah ketika manusia menemukan api. Api memampukan manusia mengalahkan gelapnya malam. Kegelapan tak lagi menakutkan. Karena api, orang dapat melihat dalam gelap.
Tak hanya itu, dengan api manusia dapat memasak daging buruan. Mereka tak lagi makan hewan buruan mentah. Dan itulah yang membedakan manusia dari hewan. Dan api pulalah yang memampukan manusia membuat perkakas. Sehingga beralihlah peradaban dari zaman batu ke zaman logam.
Jelaslah, terang merupakan hal istimewa. Terang merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Apa artinya cukup sandang, pangan, papan, tetapi semuanya serba gelap gulita. Makan pun susah! Apa enaknya punya rumah mewah, berbaju bagus, kalau tak ada terang! Siapa yang bisa menikmati semua itu?
Terang itu akan menolong manusia untuk melihat lebih jelas lagi. Kalau mau jujur, dunia kita semakin gelap, semakin gelap. Yang akhirnya, kadang membuat orang bingung dalam mengambil keputusan! Sekali lagi, karena serba nggak jelas. Yang benar dianggap salah dan yang salah dianggap benar. Dalam keadaan begini, jelaslah dunia butuh terang.
Sedikit contoh, Kompas, 23 Desember 2010, membuat judul Kado Istimewa bagi Rasminah. Dinyatakan dalam berita itu bahwa di Hari Ibu Rasminah, terdakwa pencurian 6 buah piring dan 1,5 kilogram buntut sapi, akhirnya diputuskan tak bersalah oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tangerang.
Rasminah (55), nenek buta huruf, pasti lega mendengarkan keputusan tersebut. Hanya, persoalannya ialah Rasminah sendiri telah mendekam di dalam penjara sekitar 5 bulan. Memang, nama baiknya akan dipulihkan, tetapi siapa yang akan menanggung kerugian selama dia di dalam penjara? Ya, tentu Rasminah sendiri. Pada titik ini jelaslah bahwa dunia memang butuh terang.
Sekali lagi, nubuat Yesaya tadi memang kebutuhan terdalam manusia. Nubuat itu merupakan pengharapan besar manusia. Dan teriakan kegembiraan itu memang bukan rekayasa. Tak hanya anak kecil. Orang dewasa pun kalau listrik yang mati, tiba-tiba menyala, biasanya mereka akan spontan berteriak lega, “Na!” Dan nubuat Yesaya itu genap dalam diri Yesus Kristus!

TERANG YANG SESUNGGUHNYA
Situasi dan kondisi masyarakat Yahudi waktu itu memang serba muram—dari segi politik mereka dijajah Romawi, secara budaya mereka dijajah Yunani, dan secara agama mereka berada di bawah tekanan ahli Taurat dan Farisi. Masyarakat Yahudi sungguh-sungguh membutuhkan terang.
Tak heran, ketika Yohanes Pembaptis muncul dengan program reformasinya, mereka bertanya apakah dia adalah terang yang dinubuatkan oleh Yesaya? Dan Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa dia bukan terang itu.
Penulis Injil Yohanes mencatat: ”Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.” (Yoh. 1:6-9).
Persoalan masyarakat Yahudi saat itu ialah tak sedikit orang yang memaklumkan dirinya sebagai terang. Dengan kata lain, banyak terang palsu. Sehingga Penginjil Yohanes merasa perlu menyatakan Yesus sebagai ”Terang yang Sesungguhnya”.
Dan kesejatian terang itu terletak pada keterangan sesudahnya, yaitu: yang menerangi setiap orang. Kesejatian terang itu terletak pada kata kerja selanjutnya—menerangi setiap orang. Kalau dia hanya menerangi diri sendiri, tentulah dia bukan terang sejati. Terang Sejati senantiasa menerangi setiap orang!
Itulah hakikat terang—menerangi! Terang harus terpancar karena itulah hakikat terang. Dan yang namanya terang itu tidak akan pernah ada untuk dirinya sendiri. Menarik kalau kita melihat bagaimana seberkas sinar itu pergi ke segala penjuru untuk menerangi kegelapan. Terang tidak mungkin menerangi dirinya sendiri. Hakikat terang ialah senantiasa menyebar.Terang sendiri tak pernah pandang bulu. Terang tak pernah bersikap diskriminatif. Tidak. Bias terang itu pergi ke segala penjuru.
Nggak pernah ada dalam sejarah bahwa terang itu kalah dari gelap. Gelap sepekat apa pun akan hilang dengan adanya seberkas sinar terang. Meski hanya seberkas sinar. Dan tidak pernah terjadi terang itu dikalahkan oleh kegelapan. Itu sesuatu yang mustahil. Sehingga Yesus menyatakan agar kita, para pengikut-Nya, memancarkan terang itu di depan orang. Sekali lagi, dunia membutuhkannya!

MENJADI TERANG DUNIA
Bagaimanakah kita menjadi terang dunia? Syarat yang pertama dan terutama ialah terimalah terang itu terlebih dahulu. Kita tidak mungkin menerangi jika kita belum menerima terang itu. Kita mau menerangi dengan apa, jika kita sendiri tidak memiliki terang itu.
Persoalannya, tak sedikit orang yang ingin menikmati terang itu sendirian. Mereka lebih suka menikmati terang sendirian dan membiarkan orang lain tetap berada dalam gelap.
Padahal, kalau kita berbagi terang kita tidak akan pernah kehabisan terang. Kita akan tetap bisa merasakan terang itu dan membuat orang lain juga menikmati terang itu. Kita tetap bisa merasakan terang itu, meski kita mengizinkan orang lain menikmati terang.
Perhatikan kala kita berbagi cahaya—dalam Malam Kudus—cahaya kita tidak hilang. Terang yang bisa dinikmati malah semakin besar. Saya rasa kita sepakat bahwa cahaya sepuluh lilin yang berada di sudut-sudut ruangan seringkali lebih berarti ketimbang cahaya satu obor saja.
Menarik juga bila disimak, untuk Hari Raya Idul Fitri Kepolisian punya istilah Operasi Ketupat; dan untuk Hari Raya Natal dan Tahun Baru Kepolisian RI punya istilah Operasi Lilin. Ya, Operasi Lilin. Artinya, masyarakat Indonesia sungguh memahami bahwa lilin adalah simbol seorang Kristen.
Dan lilin hanya akan berguna jika dia mau menerangi sekitarnya. Agar mampu menerima, lilin harus mau menerima api dari Sang Terang. Dan ketika lilin memberikan apinya kepada lilin lain, nyala api toh masih ada. Tidak berkurang.
Persoalannya ialah kita sering enggan berbagi karena merasa diri kurang. Saya yakin kita semua senang dengan figur Janda Miskin yang mau memberi dari kekurangannya. Soalnya, ya sering kali di sini, kita senang dengan figurnya, tetapi tak mau melakukannya. Padahal, kata orang bijak, jangan menunggu kaya dulu baru memberi; karena mungkin kita nggak akan pernah memberi karena memang nggak kaya-kaya.
Saya meyakini, Jemaat GKJ Jakarta telah belajar banyak memberi; sekali lagi bukan dari kelebihannya. Tak sedikit orang sebenarnya yang khawatir bahwa persembahan akan menurun karena adanya penggalangan dana. Sejarah membuktikan, penggalangan dana kita telah mencapai sekitar 1,5 Milyar; dan persembahan kita ternyata mengalami peningkatan. Ada juga yang menduga bahwa kita tentu tidak dapat berbuat apa-apa berkait dengan rangkaian bencana di Indonesia. Namun sejarah membuktikan bahwa kita telah dua kali mengirim relawan ke Yogyakarta. Jangan menunggu kaya dulu, baru memberi!

BELAJAR DARI ORANG BIASA
Itu jugalah yang diingatkan Paulus dalam suratnya kepada Titus: ”Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.” (Tit. 2:11-14).
Paulus mengingatkan agar umat Allah rajin berbuat baik. Dia tidak menyatakan ”berbuat baik”. Tidak. Ada kata ”rajin”. Rajin berarti terus-menerus dan tidak sekali-kali.
Dan itulah yang diperlihatkan dalam Natal pertama. Lukas mencatat: ”Tak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” (Luk 2:7). Tetapi masih ada keluarga yang mau memberikan kandangnya bagi pasangan muda itu. Kita tidak pernah tahu siapa mereka. Lukas tidak mencatat nama pemilik kandang itu. Namun, apa yang dilakukannya sungguh menghibur hati Yusuf dan Maria.
Bukankah itu pula yang dilakukan para gembala Efrata? Di hati mereka ada tempat bagi Allah sehingga mereka dengan spontan berangkat mencari Juruslamat! Di hati mereka ada tempat bagi manusia sehingga mereka menjadi penginjil-penginjil pertama bagi penduduk yang tinggal di Betlehem.
Saya meyakini, Maria dan Yusuf meski tak begitu paham, pastilah terhibur. Malaikat itu tidak pernah menampakkan diri lagi kepada mereka. Dan sekarang, melalui para gembala itu, Maria dan Yusuf merasa diteguhkan hatinya. Tak mudah bagi saya membayangkan suasana dalam kandang itu. Pastilah ramai, seramai orang menyambut kelahiran seorang bayi. Dan suasana semacam ini, mungkin tidak akan terjadi di rumah penginapan; di mana masing-masing tamu sibuk dengan dirinya sendiri.
Baik pemilik kandang maupun gembala itu memang orang-orang biasa. Tetapi, mereka mau berbagi. Dan ketika mereka mau berbagi, pada saat itulah kehadiran Tuhan sungguh dapat dirasakan.
Terang yang sesungguhnya, yang sedang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Inilah berita Natal. Kita bisa sungguh-sungguh menjadikan berita ini kenyataan jika kita rela berbagi terang, berbagi perhatian, dan berbagi kehangatan kasih. Jika itu kita lakukan, mungkin orang yang menerima kasih kita itu akan berkata bersama dengan kita: ”Terang yang sesungguhnya, yang sedang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.”

Yoel M. Indrasmoro

Minggu Adven IV, 19 Desember 2010

BELAJAR DARI KELUARGA KUDUS

Kisah Natal versi Injil Matius dimulai dengan masalah. Demikianlah Penginjil Matius memulai kisahnya: ”Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.” (Mat. 1:18).
Mulanya semua serbaindah. Yusuf dan Maria telah mengikatkan diri dalam ikatan pertunangan. Mereka berdua sedang menyiapkan bahtera keluarga mereka.

Masalah
Nah, di tengah suasana serbaindah itu, Maria mengandung sebelum mereka berdua hidup sebagai suami istri. Ini jelas merupakan masalah. Mereka belum hidup sebagai suami istri, tetapi Maria telah mengandung.
Jelas menjadi masalah karena Yusuf mengetahui dengan pasti bahwa mereka belum pernah bersetubuh. Nah, jika demikian siapakah sesungguhnya ayah Sang Bayi yang dikandung Maria? Lalu, apakah yang seharusnya dilakukan Yusuf?
Menghadapi masalah ini, Penginjil Matius mencatat: ”Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.” (Mat. 1:19).
Yusuf, tungangan Maria, ternyata merupakan pribadi yang tak suka mencari kambing hitam. Dia juga tak ingin menang sendiri. Dia berupaya hidup berdamai orang lain, meski menyakitkan hatinya. Dia memilih sakit, ketimbang menyakiti orang yang dikasihinya.
Dengan ikhlas, Yusuf memutuskan pertunangannya dengan Maria secara diam-diam. Dia tidak mau ribut, juga tidak menyalahkan tunangannya. Dia berupaya untuk tidak melukai hati Maria.
Yusuf tidak merasa perlu membalas dendam. Dia juga tak ingin membuat sensasi dan mengharap belas kasihan orang. Agaknya, Yusuf telah berdamai dengan dirinya sendiri.
Penginjil Matius mencatat bahwa hatinya tulus. Kenyataannya, dia memang mampu bersikap nothing to lose—siap kehilangan. Bahkan, mungkin kata orang, dia telah kehilangan harga diri.

Anak Daud
Menarik disimak, kepada pribadi demikianlah, malaikat Allah menyingkapkan visi Allah bahwa ”Anak yang dikandung Maria adalah dari Roh Kudus”. Visinya sendiri telah dirangcang-Nya sejak zaman Ahaz. Perhatikan nubuat Yesaya: ”Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yes. 7:14).
Saya tidak tahu apakah Yusuf mengenal nubuat Yesaya ini. Tetapi, saya rasa nubuat Yesaya tak penting lagi karena malaikat Allah sendirilah yang menyingkapkan visi Allah kepada Yusuf. Dan visi itulah yang membuat Yusuf mengurungkan niatnya. Bahkan, dia makin mantap menjalankan tugas sebagai Bapak Hukum bagi Yesus.
Ya, ayah hukum bagi Yesus Kristus. Yusuf bukanlah ayah biologis, melainkan ayah hukum bagi Yesus. Ini menjadi pokok penting karena dalam karya-Nya Yesus akan disapa sebagai Anak Daud. Dan jangan pula kita lupa bahwa gelar Anak Daud bagi Yesus orang Nazaret hanya mungkin terjadi ketika Yusuf bersedia menjadi ayah hukum bagi Yesus.
Itu jugalah yang ditekankan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Paulus menegaskan bahwa secara jasmani Yesus adalah keturunan Daud. Dan sekali lagi itu terjadi karena Yusuf merupakan keturunan Daud. Pada titik ini jelaslah bahwa Yusuf menyumbang gelar Anak Daud dalam diri Yesus.
Sekali lagi, gelar Anak Daud itu menjadi pas disematkan kepada Yesus Kristus karena Yusuf, ayah hukum bagi Yesus, adalah keturunan Daud. Seandainya Yusuf tidak mau mengambil risiko itu—artinya tidak mau menjadi ayah hukum bagi Yesus—maka gelar Anak Daud bagi Yesus mungkin nggak pernah ada.

Masya Allah: Apa Kehendak Tuhan?
Agaknya, Yusuf memahami apa hakikat masalah sesungguhnya. Istilah ”masalah” berasal dari bahasa Arab—masya Allah—yang berarti apakah kehendak Tuhan. Dalam menghadapi masalah, Yusuf tidak tergoda untuk mengandalkan baik akalnya maupun perasaan, tetapi dia merasa perlu bertanya lebih jauh—di atas semuanya itu—apakah sesungguhnya kehendak Tuhan itu.
Nah, ketika Yusuf mendasarkan keputusannya kepada kehendak Tuhan, maka Tuhan menyatakan visi-Nya kepada Yusuf. Bayangkan, jika Yusuf bermental berangasan—tanpa pikir panjang langsung menceraikan Maria di depan umum!
Tentu, tak sedikit orang akan menganggapnya wajar dan berkata, ”Siapa sih orangnya yang senang dikhianati?”. Tetapi, tindakan itu pastilah melukai hati Maria. Dan Yusuf memang tak ingin melukai hati Maria!
Jika Yusuf bertindak gegabah, karena dia memang tidak tahu bahwa semuanya itu karena Roh Kudus, maka Maria dan Yusuf sudah kadung sakit hati. Bisa saja mereka berdamai, tetapi ya sudah terlanjut sakit hati.
Itu seumpama paku yang ditancapkan ke dalam kayu. Memang, paku itu bisa diambil dari kayu tersebut. Namun, paku itu pastilah meninggalkan lubang. Ya, hati-hatilah dalam bertindak. Pikirkan apakah itu kehendak Tuhan atau tidak. Setidaknya, apakah kita akan melukai orang lain atau tidak. Bagaimanapun, Allah pastilah tak ingin ada orang yang disakiti hatinya!
Mengapa Yusuf bersedia mengambil risiko? Salah satu jawabannya adalah karena Yusuf percaya kepada Allah. Dia memercayai Allah. Menarik untuk kita kaji ada hubungan erat antara percaya dan tindakan yang penuh dengan risiko. Dengan kata lain, kepercayaan membuat orang berani mengambil risiko.
Dan ketika kita berani mengambil risiko atas nama kehendak Tuhan, maka Tuhan tidak akan pernah tinggal diam. Lihatlah Yusuf dan Maria! Ketika Yusuf menjadikan kehendak Allah dalam hidupnya, Allah tidak tinggal diam.
Campur tangan Allah memampukan Yusuf untuk memenuhi panggilan hidup sebagai hamba Allah. Campur tangan Allah mengubah Yusufmenjadi baru seturut citra-Nya. Campur tangan Allah membuktikan bahwa nama-Nya sungguh Imanuel—Allah menyertai.
Tak hanya di masa lampau di Yudea. Juga kini dan di sini. Nama-Nya tetaplah Imanuel—Allah menyertai. Dia beserta Saudara dan saya kini dan selamanya.
Begitu juga dengan GKI Jatiasih yang merayakan ulang tahunnya ke-11. Marilah kita memahami masalah sebagai kesempatan bagi mengenal dan melakukan kehendak Tuhan. Jangan biarkan masalah membuat kita malah menjauh dari Tuhan dan mengandalkan diri sendiri! Sekali lagi, pandanglah masalah sebagai masya Allah—apakah kehendak Tuhan?
Amin.
Yoel M. Indrasmoro

Minggu Adven III, 12 Desember 2010

Tetap Teguh dan Setia dalam Pengharapan

”Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya.” (Mzm. 146:7-9).
Dalam mazmur 146, Allah diakui sebagai Pribadi yang membebaskan, membuka mata orang-orang buta, menegakkan orang tertunduk, mengasihi orang benar, menjaga orang asing, menegakkan anak yatim dan janda.
Lalu, bagaimana itu bisa terjadi? Allah tidak bekerja sendirian. Allah melibatkan manusia! Dia ingin kita terlibat dalam memperlihatkan wajah Allah bagi dunia! Aneh rasanya, jika kita mengakui Allah sebagai Pribadi yang sungguh-sungguh peduli terhadap nasib manusia, namun kita sendiri abai akan tugas kita di dunia ini.
Yesus orang Nazaret memperlihatkan kepada kita bahwa Allah bekerja melalui manusia. Yesus telah memperlihatkan wajah Allah bagi sesama? Yesus peduli dengan manusia. Dan itulah yang didengar Yohanes Pembaptis dalam penjara.

Harapan Yohanes Pembaptis
Yohanes Pembaptis di penjara. Orang yang pernah begitu menggetarkan padang gurun Yudea tak lagi bisa bertemu dan menegur orang sesukanya. Dinding-dinding penjara telah membatasi gerak tubuh dan suaranya.
Bisa jadi, terkait gaya hidupnya, di awal-awal pemenjaraannya dia tak begitu mempersoalkan nasibnya. Sebab, dia dipenjara bukan karena tindak kriminal, tetapi karena gencar melancarkan kritik. Dan yang menjadi sasaran kritiknya kali ini ialah Herodes—sang penguasa negeri. Ketika Herodes mengunjungi rumah Filipus di Roma, ia membujuk Herodias untuk meninggalkan Filipus dan menikah dengannya.
Di mata Yohanes Pembaptis, kesalahan Herodes tak boleh dibiarkan. Bagaimanapun, Herodes adalah pemimpin negeri. Jika kesalahan pemimpin dibiarkan, maka dia akan kehilangan kewibawaannya sebagai pemimpin. Jika pemimpin telah kehilangan wibawanya, apa lagi modalnya selaku pemimpin?
Herodes ternyata tak suka dikritik. Sebagai penguasa, Herodes merasa bisa berbuat apa saja. dan itulah yang dilakukannya dengan menangkap Yohanes Pembaptis dan menjebloskannya ke dalam penjara.
Nah, di penjara itu Yohanes Pembaptis mendengar tentang pekerjaan Yesus. Sepupunya itu ternyata telah menjadi orang terkenal. Yesus, orang Nazaret, yang pernah dibaptis olehnya itu, telah melakukan serangkaian mukjizat. Cuma, persoalannya, mengapa pula Yesus seakan tidak mempedulikannya?
Lupakah Yesus dengan peristiwa baptisan yang belum lama berselang. Jika tidak, mengapa Yesus tidak memberi perhatian kepadanya? Tak heran, jika Yohanes Pembaptis mengutus para murid-Nya untuk bertanya, ”Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”
Putra Zakharia itu tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya, juga keragu-raguannya. Jika Yesus memang Mesias, mengapa Dia membiarkan dirinya, orang yang pernah membaptis-Nya, merana dalam penjara? Jika Yesus adalah Mesias, mengapa dia tidak membebaskannya dari penjara? Mengapa Yesus tidak membelanya? Bukankah dia punya kuasa untuk itu?

Yesus Tetap Mesias
Atas pertanyaan itu, Yesus menegaskan bahwa Dialah Mesias sebagaimana nubuat Yesaya: ”Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara; tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah kersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan.” (Yes. 35:5-6).
Suasana sebagaimana nubuat Yesaya telah digenapi oleh Yesus sendiri. Yesus sendiri dengan lugas dan tegas menyatakan kepada utusan Yohanes untuk mengatakan kepada Yohanes apa yang mereka dengar dan lihat: ”orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.” (Mat. 11:15).
Namun, lanjut Yesus, ”Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” Yesus tampaknya hendak menyatakan bahwa Dia tetap Mesias. Memang, Sang Guru dari Nazaret itu belum mengunjungi sanaknya yang di penjara. Tetapi, Dia tetap Mesias. Dan Mesias akan melakukan apa yang dipandang-Nya baik.
Dengan kata lain, Yesus adalah Mesias, meskipun tidak melakukan apa yang diharapkan Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis tentunya memiliki pengharapan yang besar terhadap Yesus. Mungkin saja ia ingin dibebaskan oleh Yesus sendiri, mungkin saja ia ingin ditengok. Tetapi, meski Yesus tidak memenuhi harapan Yohanes Pembaptis, Dia tetap Mesias. Dan penulis Alkitab mencatat, hingga akhir hidup Yohanes Pembaptis, dua bersaudara itu tak pernah bertemu lagi di dunia.
Yesus tetap berharap Yohanes Pembaptis tidak patah arang. Bahkan, Yesus sendiri memuji Yohanes Pembaptis: ”Ingatlah! Di dunia ini tidak pernah ada orang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.” (Mat. 11:11).
Mengapa Yesus tidak mengabulkan permintaan Yohanes Pembaptis? Pertama, sebab Yesus sungguh Tuhan. Jika, Yesus mengabulkan semua permintaan manusia, lalu siapakah yang sesungguhnya menjadi Tuhan?
Kedua, Yesus tahu kekuatan iman Yohanes Pembaptis. Yesus tahu bahwa tanpa kunjungan-Nya pun Yohanes Pembaptis tetap setia kepada Allah. Dan itulah yang memang terjadi. Yohanes Pembaptis mati dalam kesetiaannya kepada Allah.

Sabar dalam Derita
Ya, Yesus tetap Mesias, meski apa yang kita harapkan belum terkabul, bahkan mungkin tak pernah terkabul. Kemesiasan Yesus tidak akan berubah meski Dia tidak melakukan hal-hal yang besar dalam kehidupan kita.
Tak hanya kepada Yohanes Pembaptis, kepada kita pun Yesus berkata: ”Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”
Karena itu sungguh relevanlah surat Yakobus yang dikumandangkan hari ini: ”Sebab itu, sabarlah Saudara-saudaraku, sampai Tuhan datang. Lihatlah bagaimana sabarnya seorang petani menunggu sampai tanahnya memberikan hasil yang berharga kepadanya. Dengan sabar ia menunggu hujan musim gugur dan hujan musim bunga. Hendaklah kalian juga bersabar dan berbesar hati, sebab hari kedatangan Tuhan sudah dekat. Janganlah menggerutu dan saling menyalahkan, supaya kalian tidak dihukum oleh Allah. Ingat! Hakim sudah dekat, siap untuk datang. Saudara-saudara, ingatlah para nabi yang berbicara atas nama Tuhan. Mereka sabar dan tabah menderita. Jadi, ambillah mereka sebagai contoh.” (Yak. 5:7-10, BIMK).
Yakobus berbicara soal petani yang sabar, juga soal nabi-nabi yang tabah menderita. Itu berarti kita perlu tetap berharap kepadanya dan tak menjadi kecewa. Bahkan, jika harapan kita ternyata tinggal harapan.
Dan ketika harapan kita tinggal harapan, baiklah kita menyerahkan segala keberadaan diri kita kepada kedaulatan Tuhan semata, sebagaimana Yohanes Pembaptis.
Amin.

Yoel M. Indrasmoro

Minggu Adven II, 5 Desember 2010

Bertobatlah, Sebab Kerajaan Sorga Sudah dekat!
”Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat. 3:2). Demikianlah inti pemberitaan Yohanes Pembaptis. Kerajaan Sorga yang mendekat menjadi alasan kuat agar pendengarnya bertobat.
Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Bertobatlah dari dosa-dosamu,” katanya, “karena Allah akan segera memerintah sebagai Raja!” Sesungguhnya, inilah yang dimaksudkan dengan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukan sekadar wilayah, tetapi pemerintahan Allah.
Jika Allah memerintah sebagai Raja, maka tak ada jalan lain bagi manusia untuk mengubah dirinya. Perubahan itulah yang dimaksud dengan bertobat.
Bertobat berarti berpaling dari dosa dan kembali bersekutu dengan Allah. Bertobat bukan sekadar tak berbuat salah. Inti pertobatan ialah persekutuan dengan Allah. Dalam persekutuan itu, dosa niscaya lenyap.
Hakikat dosa ialah putusnya hubungan antara manusia dan Allah. Dalam kehendak bebasnya, yang sebenarnya merupakan karunia Allah, manusia ingin menjadi penguasa sama seperti Allah. Hidup di luar persekutuan dengan Allah membuat manusia cenderung berbuat dosa dan menjauhi Allah.
Nah, jika Allah memerintah sebagai Raja, maka raja-raja kecil yang tidak mengakui kedaulatan-Nya akan tumpas. Jika Allah memerintah sebagai raja, maka tak ada lagi tempat bagi raja-raja kecil di dalam kerajaan-Nya itu. Ketika Allah memerintah sebagai Raja, maka semua makhluk adalah hamba-Nya. Dan menjadi hamba Allah merupakan hakikat pertobatan.

Hamba Allah
Menjadi hamba berarti hidup sebagaimana hamba Allah yang dinubuatkan nabi Yesaya (Yes. 11:2-5).
Dalam nubuatnya, Yesaya menggambarkan bahwa hamba Allah tidak mengikuti kemauannya sendiri. Dia menaruh kehendaknya di dalam kehendak Tuhan dan berjalan menurut kehendak Tuhan.
Hamba Allah merupakan seorang yang bijak, sekaligus bajik—tak hanya pintar, namun punya nurani. Masalah terbesar pemimpin ialah pintar, tetapi tak punya hati. Semuanya serba logis. Atau, kepintaran membuat dia membodohi orang lain.
Hamba Allah juga seorang yang cakap mengambil keputusan, dan melaksanakannya. Banyak orang piawai memutuskan, tetapi tak mampu melaksanakan keputusannya sendiri. Atau, keputusan itu tinggal keputusan. Jka demikian, apa artinya keputusan yang telah dibuat?
Hamba Allah mengenal kehendak Allah dan takwa kepada-Nya. Dia tahu kehendak Allah dan berupaya menjadikan kehendak Allah itu sebagai kehendak dirinya sendiri. Dia melibatkan dirinya di dalam kehendak Allah itu. Dia menyerahkan dirinya untuk terhisap, terlibat, dan ikut aktif di dalam kehendak Allah itu. Persoalannya, banyak pemimpin tahu yang baik, tetapi tak mau mengusahakannya.
Kesukaannya ialah taat kepada Tuhan. Ketaatan bukanlah paksaan. Menaati Tuhan merupakan jalan yang rela ditempuhnya.. Menjadi taat merupakan pilihan dalam kehendak bebasnya. Dia memilih untuk menjadi taat.
Hamba Tuhan juga tidak mengadili sekilas pandang saja. Dalam mengambil keputusan, dia merasa perlu bertindak tegas terhadap dirinya sendiri. Dia mengetahui keterbatasannya, sehingga tidak terjebak untuk mengikuti nalurinya. Dia menahan diri untuk tidak mengikuti prasangka. Semakin bijak orang, sering malah tidak mampu melihat dengan jernih. Begitu percaya dirinya, sehingga dia merasa praduganya pasti benar.
Dan dia tidak mengambil keputsan berdasarkan kata orang. Dia merasa perlu bertindak cover both side. Dia merasa perlu memperhatikan pertimbangan banyak pihak. Juga pihak-pihak yang berseberangan dengan dirinya sendiri. Dia berdiri di atas kepentingan semua pihak, terutama pihak-pihak yang bertentangan.
Orang miskin dihakiminya dengan adil, orang tak berdaya dibelanya dengan jujur; orang bersalah dihukum atas perintahnya, orang jahat ditumpasnya. Ia bertindak dengan adil dan setia dalam segala-galanya. Dia bertindak adil.
Yang salah, ya dihukum. Yang benar, ya dibela. Dia tidak merasa perlu bertindak berdasarkan kepentingan-kepentingan pribadi. Dia bertindak berdasarkan kebenaran dan keadilan.
Demikianlah tindakan-tindakan konkret seorang yang memanggil dirinya sebagai hamba Allah. Menjadi hamba Allah sesungguhnya juga merupakan panggilan.

Buah Pertobatan
Hamba Allah tak hanya status. Hamba Allah merupakan panggilan untuk menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan. Itu pulalah kesimpulan khotbah Yohanes Pembaptis—”Jadi, hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan!” (Mat. 3:8)
Jelaslah, pertobatan saja belum cukup. Niat yang baik perlu tumbuh terus menjadi pohon, berbunga, mekar dan berbuah, tidak mandek, mandul, kopong dan mengering. Jadi tak hanya bertumbuh, tetapi juga berbuah.
Bila tak menghasilkan buah, Allah akan memusnahkannya (Mat. 3:10). Terkesan Kejam, tapi lumrah. Mana ada orang menanam pohon mangga tak ingin menikmati daunnya. Seteduh-teduhnya pohon mangga, itu juga ada gunanya, kita pasti ingin menikmati buahnya.
Jangan pula kita lupa, tidak berbuah sejatinya hanya menghabiskan hara dalam tanah. Tidak berbuah berarti pula hanya memboroskan energi dan waktu dari sang pemilik.
Salah satu buahnya, menurut Paulus, ialah menerima orang lain apa adanya, sebagaimana Kristus menerima kita juga apa adanya (Rm. 15:7). Tak gampang memang. Namun, itulah tanda-tanda kehidupan warga kerajaan Allah. Sehingga, kemuliaan Allah memenuhi seluruh bumi (Mzm. 72:19).

Yoel M. Indrasmoro