Minggu, 6 Oktober 2013

TUHAN ADALAH SANG PENGUASA DAN PENENTU KEHIDUPAN

”Ya TUHAN, sampai kapan aku harus berseru meminta pertolongan? Kapan Engkau akan mendengar dan menyelamatkan kami dari penindasan? Mengapa Kaubiarkan aku melihat begitu banyak kejahatan? Masakan Engkau tahan melihat begitu banyak pelanggaran? Di mana-mana ada kehancuran dan kekerasan, perkelahian dan perselisihan. Hukum diremehkan dan keadilan tak pernah ditegakkan. Orang jahat menjadi unggul atas orang yang jujur, maka keadilan diputarbalikkan,” (Hab. 1:2-4, BIMK)

Demikianlah ratapan Nabi Habakuk berkait dengan keadaan bangsanya. Di mata Habakuk situasi dan kondisi Kerajaan Yehuda sungguh mengenaskan. Bangsa yang mengaku diri sebagai bangsa yang diselamatkan Allah—sehingga boleh memakai gelar umat Allah itu—ternyata tidak hidup sebagai bangsa yang telah diselematkan Allah. Habakuk adalah saksi bagaimana kejahatan semakin marak; di mana-mana ada kehancuran dan kekerasan, perkelahian dan perselisihan. Umat merasa lebih tinggi dari hukum sehingga mereka meremehkannya dan keadilan tak pernah ditegakkan. Bahkan, orang jahat karena uang bisa menang di pengadilan ketimbang orang yang jujur.

Dan karena situasi dan kondisi itulah, Habakuk mengeluh kepada Tuhan. Pada titik ini, Habakuk sedang mempertanyakan Tuhan, yang tampaknya tidak berbuat apa-apa. Perhatikan keluhan Habakuk: ”Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ’Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.”

Pada titik ini, bisa diandaikan bahwa Habakuk juga sedang menjadi wakil umat yang bertanya: ”Apakah umat Allah harus tetap hidup sebagai umat Allah? Kalau menjadi orang baik itu susah—dan kelihatannya Tuhan diam saja—lalu mengapa kita tetap berusaha menjadi orang baik? Apakah nggak sia-sia namanya?”

Tak mudah memang menjadi umat Allah dalam situasi bangsa Yehuda pada abad VI SM. Mungkin perasaan umat Allah seperti apa yang dinyatakan Ranggawarsita dalam Serat Kalatida: amenangi zaman édan, éwuhaya ing pambudi, mélu ngédan nora tahan, yén tan mélu anglakoni, boya keduman mélik, kaliren wekasanipun… (menyaksikan zaman gila, serba susah dalam bertindak, ikut gila tidak akan tahan, tapi kalau tidak mengikuti (gila), tidak akan mendapat bagian, kelaparan pada akhirnya).

Syair tadi menurut analisis seorang penulis bernama Ki Sumidi Adisasmito adalah ungkapan kekesalan hati pada masa pemerintahan Pakubuwono IX yang dikelilingi para penjilat yang gemar mencari keuntungan pribadi. Syair tersebut masih relevan hingga zaman modern ini di mana banyak dijumpai para pejabat yang suka mencari keuntungan pribadi tanpa memedulikan kerugian pihak lain.

Pada hemat saya, agaknya situasi hati yang kurang lebih sama juga menghinggapi sebagian besar rakyat Indonesia abad XXI. Rakyat menjadi apatis dengan para pemimpinnya; bisa dilihat bagaimana orang kurang antusias untuk terlibat dalam pemilu kepala daerah. Dan yang lebih gawat adalah ketika orang merasa boleh melakukan apa saja karena pemerintah sudah tak lagi punya gigi. Lalu, bagaimanakah seharusnya sikap kita.

Menarik disimak, setelah meratap Habakuk mengambil inisiatif: ”Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku” (Hab. 2:1).

Yang dilakukan Habakuk adalah berkomunikasi dengan Allah. Habakuk sengaja naik ke tempat tinggi untuk menantikan apa yang difirmankan Allah. Habakuk ingin mendengar suara Allah. Meski Habakuk mengeluh kepada Allah, dan merasa Allah diam menyaksikan keadaan bangsanya, dia tetap ingin mendengarkan suara Allah.

Dan itu jugalah yang diingatkan Ranggawarsita: ”Ndilalah kersa Allah,begja-begjaning kang lali, luwih begja kang éling klawan waspada” (namun telah menjadi kehendak Allah, sebahagia-bahagianya orang yang lalai,akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada).

Habakuk agaknya tetap sadar yang paling penting dalam diri manusia ialah tetap ingat bahwa dirinya adalah hamba Allah. Dan hamba Allah harus bertindak sebagai hamba Allah. Dan hamba Allah harus seturut dengan kehendak Allah. Jadi, Habakuk berikhtiar untuk menantikan suara Allah.

Lalu, apa yang dikatakan Allah? ”Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya” (Hab 2:2). Allah meminta Habakuk untuk menulis. Menulis dengan jelas dan lugas agar orang dapat memahaminya meski membacanya sambil lalu.

Menarik disimak, berkait dengan situasi dan kondisi Yehuda, Allah menekankan pada pentingnya pembelajaran. Dan dalam pembelajaran yang tak kalah pentingnya adalah bahan ajar. Habakuk diminta untuk membuat bahan ajar dengan teknis yang bagus sehingga orang yang nggak mau belajar bisa memahaminya.

Bagaimana dengan Indonesia sekarang ini? Kabar baik harus diceritakan. Bukan kabar namanya jika tidak dituturtinularkan. Kebaikan kabar itu menuntut manusia untuk mengabarkannya terus. Kebijakan masa lampau dan harapan masa depan berteriak untuk dikumandangkan.

Habakuk tinggal di tengah kehancuran bangsa, namun, ia melihat tujuan Allah dan mendengar suara Allah, ”Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya.” Visi Allah harus ditulis secara jelas agar orang dapat sungguh-sungguh merasakan kebaikan dari kabar baik itu. Jangan sampai, ketidakjelasan malah membuat orang meragukan kebaikan dari Kabar Baik itu.

Pembelajaran menjadi hal yang mutlak perlu. Dan hanya dengan cara itulah umat Allah diperlengkapi untuk tetap mampu bertindak sebagai hamba Allah. Dan itulah kita cara kita mengakui bahwa Allah adalah penguasa dan penentu kehidupan kita.

Gereja yang belajar. Sejatinya itulah yang harus terus kita kumandangkan di tengah situasi dan kondisi bangsa yang makin memburuk. Jawaban dari proses reformasi yang hingga kini belum selesai adalah bahwa kita harus menyiapkan generasi muda untuk makin memahami apa artinya menjadi Kristen di Indonesia pada abad XXI.

Gereja harus menyiapkan bahan ajar yang memadai, yang membuat naradidik menjadi haus ilmu. Belajar Iman Kristen seharusnya perlu diupayakan dengan cara yang menyenangkan. Sehingga semakin banyak orang yang tertarik dan akhirnya sungguh-sungguh memahami imannya dan hidup dalam imannya itu (lih. Hab. 2:4). Dan inilah jawaban jitu dari situasi negeri yang semakin parah ini.

Yoel M. Indrasmoro

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s