Minggu Adven I, 1 Desember 2013

HIDUP DALAM HADIRAT TUHAN

Tahun baru gerejawi dimulai Minggu ini, 1 Desember 2013. Itu berarti kita kembali memasuki Masa Adven (latin: kedatangan), selama empat minggu berturut-turut, sebelum menyambut kedatangan Allah Yang Menjadi Manusia dalam Natal.

Nah, tahun baru adalah momen yang tepat untuk memulai sesuatu yang baru. Karena itu, perlulah kita bertanya: ”Apa yang akan kita lakukan pada tahun baru ini?”

Tentunya, awal baru tak hanya butuh niat baru. Sejarah menyatakan—setidaknya sejarah hidup saya—hidup manusia sering disesaki niat tanpa realisasi. Perlu sikap waspada, agar niat tak tinggal niat belaka.

Herbert Kauffman, sebagaimana dikutip Frank Bettger dalam buku Meretas Kegagalan Menuju Sukses Penjualan, menulis: ”Di daftar orang yang berhasil namamu tidak terdapat. Jelaskan kenapa! Bukan peluang yang kau tidak punya! Seperti biasa—Kau tidak berbuat apa-apa.” Itulah persoalan manusia pada umumnya.

Siap Sedia
Bukan hal aneh, jika pada Minggu-minggu Adven, Kitab-kitab Injil berbicara soal kewaspadaan. Sekali lagi, agar kita tidak jatuh dalam lubang kesalahan yang sama—”tidak berbuat apa-apa”

Penulis Injil Matius merekam nasihat Sang Guru dari Nazaret: ”Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” (Mat. 24:42).

Yesus menggambarkan hari kedatangan-Nya itu dengan cara yang sungguh biasa—laki-laki masih tetap bekerja di ladang dan perempuan memutar batu giling. Tak ada peristiwa supernatural.

Dan hal-hal serbabiasa itulah yang sering membuat manusia lengah! Tak ada peringatan dini sebagaimana bencana Tsunami. Tak ada pula, status Waspada, Siaga, Awas sebagaimana status gunung berapi di atas normal.
Karena semuanya serbabiasa, Yesus menasihati para murid-Nya untuk tetap siap sedia. Artinya, tetap melaksanakan kewajiban mereka sebagai murid.

Berjalan dalam Terang Tuhan
Kepada umat Israel, Yesaya berseru: ”Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN.” (Yes. 2:5). Seruan itu bernada undangan, bukan paksaan. Namun, undangan itu sekaligus juga peringatan—pentingnya berjalan dalam terang TUHAN.

Hanya dalam teranglah manusia dapat melihat. Manusia mampu melihat jika ada cahaya yang tertangkap retina. Tanpa terang itu, mustahil manusia dapat melihat. Hanya dalam teranglah, manusia dapat percaya diri dalam menentukan langkahnya.

Berjalan dalam terang TUHAN akan membuat kita berani melangkahkan kaki. Dalam gelap, yang kita lakukan hanyalah meraba-raba. Dalam gelap yang ada hanyalah kegamangan, keragu-raguan.

Dalam terang TUHAN berarti juga Allahlah yang menerangi jalan kehidupan kita. Dengan kata lain, Allahlah yang menunjukkan jalan-jalan-Nya kepada kita. Ketika mengambil keputusan, kita mengambil keputusan berdasarkan terang TUHAN. Itu berarti pula kita hidup dalam terang TUHAN!

Serbakonkret
Bagaimanakah kita hidup dalam terang Tuhan itu? Bicara soal hidup tentulah kita paham bahwa hidup bukanlah abstrak. Hidup merupakan kegiatan sehari-hari. Hidup dalam terang Tuhan harus maujud dalam tindakan-tindakan konkret.

Yesaya menyatakan akan ada masa di mana orang-orang akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas. Pedang dan tombak sebagai alat perang itu tidak lagi disimpan untuk dipakai di masa perang, tetapi diubah menjadi alat-alat pertanian.

Perhatikan gambaran yang ditayangkan di sini! Ada perubahan bentuk. Alat-alat perang yang ada di gudang sungguh diubah. Dari alat perang menjadi alat produksi. Dari alat yang membinasakan (pedang), menjadi alat yang menumbuhkan (mata bajak). Dari alat pembunuh (tombak) menjadi alat pemelihara (pisau pemangkas).

Pada titik ini, hidup tak lagi diisi dengan keinginan untuk menghancurkan, tetapi membangun; bukan mematikan, tapi menghidupkan; dan bukan untuk merampas kehidupan, tetapi untuk memberi kehidupan kepada pihak lain. Inilah salah satu tindakan konkret demi tercapainya damai sejahtera. Juga di bumi Indonesia ini.

Mengarah kepada Allah
Semua itu hanya akan terjadi tatkala orang mampu berkata satu sama lain: ”Mari kita pergi ke rumah TUHAN.” (Mzm. 122:1). Pergi ke rumah TUHAN menyiratkan bahwa setiap orang—mengutip syair Ebiet—”mesti telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin.”

Pergi ke rumah TUHAN berarti pula hidup yang mengarah kepada Allah. Allahlah yang menjadi pusatnya! Itu jugalah yang diingatkan Paulus kepada warga jemaat Roma: ”Kita harus melakukan hal-hal terhormat seperti yang biasanya dilakukan orang pada siang hari; jangan berpesta pora melampaui batas, atau mabuk. Jangan cabul, atau berkelakuan tidak sopan. Jangan berkelahi, atau iri hati. Biarlah Tuhan Yesus Kristus yang menentukan apa yang kalian harus lakukan.” (Rm. 13:13-14, BIMK).

Semua nasihat Paulus itu serbakonkret dan praktis. Paulus berkata: Biarlah Tuhan Yesus Kristus menentukan apa yang harus kita lakukan. Mengapa? Karena Dia adalah Tuhan dan kita hamba.
Dengan kata lain, kita hidup dalam hadirat Tuhan. Artinya, hidup seturut dengan kehendak Tuhan karena Tuhan hadir dalam kehidupan kita.

Persoalannya sering kali memang di sini, kita hidup semau kita karena kita menganggap Tuhan tidak hadir dalam kehidupan kita. Padahal Tuhan senantiasa hadir karena Tuhan Mahahadir. Sehingga, logislah jika kita mengamini pesan Paulus tadi: Biarlah Tuhan Yesus menentukan apa yang harus kita lakukan!

Amin.

Yoel M. Indrasmoro

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s