Artikel-Artikel

Diskusi Panel LAI, 23 April 2010

INTENSITAS PENGGUNAAN ALKITAB DALAM KELUARGA
MARI MEMAKSIMALKAN CERITA-CERITA ALKITAB!

”Alkisah hiduplah seorang gadis bernama Putri Sewidak Loro (Putri Enam Puluh Dua). Para tetangganya memanggilnya Sewidak Loro karena rambutnya hanya 60 helai dan giginya cuma dua.” Demikianlah nenek saya mengawali ceritanya di suatu sore.
Benak kanak-kanak saya berupaya keras membayangkan rupa gadis itu. Wajahnya—dalam benak saya tentunya—jauh dari rupawan. Rambutnya cuma 60 helai. Tak terbayangkan, betapa panasnya kepalanya di bawah sengatan mentari! Giginya hanya dua seperti syair lagu Burung Kakaktua. Ini putri atau nenek-nenek? Lalu, mengapa dia disebut putri?

Cerita Nenek
Rasa penasaraan itulah yang membuat saya, adik, serta para sepupu saya terpaku mendengarnya. Seingat saya, kami semua diam. Telinga kami terbuka lebar menanti suara yang keluar dari mulut tua itu. Mata kami memandang wajah tuanya. Dan pikiran saya pun liar menggambarkan wajah sang putri dalam benak.
Itulah ritual kami setiap sore setelah mandi. Nenek kami punya banyak cerita. Di mata saya, dia perawi ulung. Buktinya, saya masih ingat salah satu cerita sore itu, meski telah berselang lebih dari 30 tahun.
Tak hanya dia, ibu saya pun suka bercerita. Mungkin karena faktor keturunan. Setiap malam dia juga bercerita. Saya dan adik saya meriung di sekelilingnya. Ceritanya sering diulang. Entah kenapa, kami tak bosan mendengarnya. Mungkin karena dia bercerita dengan gaya berbeda, meski lakonnya sama. Kenyataan itu pulalah, yang membuat kami memaksanya bercerita lagi.
Ayah saya pun senang bercerita. Bedanya dengan Ibu dan Nenek, dia lebih banyak bercerita mengenai tokoh-tokoh Alkitab. Itu biasa dilakukannya dalam ibadah keluarga.

Manusia Senang Cerita
Sesungguhnya, manusia senang cerita. Manusia suka diceritai. Tentu saja, manusia juga senang bercerita. Beberapa bukti dapat dikemukakan di sini.
Masyarakat tradisional Jawa senang dengan pertunjukkan wayang, yang bersumber pada epos, entah Mahabrata maupun Ramayana. Meski sudah tahu akhir cerita—dalang jarang sekali keluar dari pakem—para penggemar wayang tetap tekun menonton hingga pagi. Meski terkantuk-kantuk, mereka tetap bertahan.
Manusia modern pun senang cerita. Curhat yang sekarang ngetren di kalangan anak muda juga cerita. Artinya, yang sedang curhat merasa punya cerita yang perlu dibagikan agar beban hatinya sedikit berkurang. Yang mendengar pun, mungkin karena alasan solidaritas, tak keberatan mendengarkannya.
Tak aneh, jika gosip menjadi laku keras di layar kaca. Sekali lagi, orang suka mendengar cerita, entah benar atau tidak. Sinetron pun—entah isinya mendidik atau tidak—berbasis cerita.

Pewarisan Nilai
Manusia senang cerita. Oleh karena itu, cerita dapat menjadi sarana pewarisan nilai-nilai kehidupan. Misalnya, cerita Putri Sewidak Loro tadi. Meski anaknya berwajah buruk—masyarakat di desa itu menjulukinya dengan Sewidak Loro—sang ibu tetap memanggilnya Putriku Sing Ayu Dhewe ’Putriku yang paling cantik’.
Meski masyarakat desa itu menganggap rendah anak perempuannya karena buruk rupanya, namun di mata sang ibu anaknya adalah seorang putri yang cantik. Wajahnya jelek, tetapi hatinya cantik. Kecantikan hati itulah yang senantiasa ditekankan sang ibu kepada anaknya. Kecantikan hati itulah yang membuatnya makin cantik. Di akhir cerita, atas bantuan Ilahi, wajah anak perempuannya berubah menjadi cantik.
Kala beranjak dewasa, cerita tadi tetap melekat dalam benak, saya terkesan dengan sikap ibu itu terhadap anak perempuannya. Meski anaknya tampak buruk di mata orang lain, sang ibu senantiasa menyayangi. Ibu tersebut bahkan menyapanya Putri. Kelihatannya, kasih sayang ibu itulah yang menggerakkan Sang Ilahi membuat mukjizat. Ya, mukjizat itu terjadi karena kasih sayang ibu. Kalau sudah begini, siapa yang tak suka mempunyai ibu seperti itu?
Agaknya, nilai-nilai itulah yang hendak ditularkan nenek kepada kami—kasih seorang ibu, kecantikan hati, dan kemampuan memandang situasi dari sudut pandang berbeda. Nenek tak pernah mengakhiri ceritanya dengan nasihat. Cerita itu sendiri penuh dengan nasihat. Lagi pula, siapa yang suka dinasihati?
Itu jugalah perintah Allah kepada orang tua di Israel: ”Jangan sekali-kali melupakan perintah-perintah yang saya berikan kepadamu hari ini. Ajarkanlah kepada anak-anakmu. Hendaklah kamu membicarakannya di dalam rumah dan di luar rumah, waktu beristirahat dan waktu bekerja.” (Ul. 6:6-7, Alkitab BIMK).
Pewarisan nilai-nilai iman tentu tak sama dengan indoktrinasi. Indoktrinasi hanya akan membuat anak merasa terpaksa, menumpulkan kreativitas, dan hanya akan memunculkan ”robot rohani” baru. Lagi pula, indoktrinasi akan melunturkan nilai-nilai iman itu sendiri.
Di situlah kekuatan sebuah cerita. Cerita yang baik akan membuat pembacanya atau pendengarnya bercermin. Gambaran diri dalam cermin itulah yang kemudian akan memampukan pembacanya atau pendengarnya mengambil keputusan sendiri. Cerita yang baik jauh dari kesan indoktrinasi.

Yesus Juga Senang Bercerita
Kelihatannya, itu jugalah alasan Yesus, Guru dari Nazaret, menggunakan cerita dalam pengajaran-Nya. Dia senang menggunakan perumpamaan. Dia tak begitu suka definisi.
Berkait dengan Kerajaan Surga, Sang Guru dari Nazaret tidak pernah memakai ”adalah”, melainkan ”seumpama” atau ”sama seperti”. Frasa yang biasa dipakai ialah ”Kerajaan Surga seumpama….” Mungkin, karena definisi bersifat lebih mengikat dan agak dekat dengan indoktrinasi.
Cerita-cerita yang mengesankan dipakai Sang Guru untuk memikat perhatian orang dan menekankan kebenaran. Cerita yang mengesankan takkan dilupakan, sehingga ajaran yang terdapat di dalamnya makin mendalam bagi pendengarnya.
Sering terjadi, orang-orang yang hendak mengujinya bungkam seribu basa kala mendengar cerita Yesus. Dan lebih sering terjadi lagi, orang-orang yang mendengarkan cerita-Nya lebih memahami kebenaran.
Sang Guru dari Nazaret juga mampu mengaktifkan para pendengar-Nya. Ia mengajak mereka bersoal jawab. Ia mengajukan pertanyaan yang mendorong mereka untuk berpikir menemukan jawaban yang tepat. Ia memberikan kesempatan untuk berbuat sesuatu. Manusia belajar jauh lebih banyak dari apa yang dilakukannya ketimbang yang didengarnya.
Itulah hakikat sistem pendidikan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), yang didengung-dengungkan di Indonesia satu-dua dekade lalu. Jika CBSA tidak terlalu sukses di Indonesia, persoalannya sering bukan pada diri murid, tetapi pada guru. Di mata saya, baik nenek, ibu, maupun ayah saya telah menerapkan sistem pendidikan CBSA melalui cerita-cerita yang mereka tayangkan.
Tayangkan? Ya, tayangkan! Itulah kekuatan cerita. Saat perawi berkata, dalam benak pendengar terbentang lukisan cerita tersebut seperti halnya film. Dan tayangan film itu berbeda-beda seturut kemampuan berimajinasi pendengar itu. Bahkan, jika dia sangat imajinatif, dia dapat turut terlibat dalam film tersebut.
Itu tentu beda dengan televisi. Saat anak menonton televisi, mereka tidak terlatih untuk berimajinasi membuat film mereka sendiri dalam benak. Mereka hanya menonton film yang dibuat orang lain.
Sekali lagi, cerita dapat menjadi sarana latihan yang bagus bagi anak untuk berimajinasi. Anak juga dapat dilatih untuk berkonsentrasi. Kedua hal ini merupakan modal awal anak untuk berkembang saat dewasa nanti. Yang tidak boleh dilupakan, cerita bisa menjadi sarana pewarisan nilai-nilai kehidupan—nilai-nilai iman.

Pewarisan Iman di GKJ
Dalam pemahaman GKJ, orang tua berkewajiban membawa anak-anak mereka kepada Allah dalam sakramen baptis. Namun, tak cukup sampai di situ. Orang tua wajib—ini yang mereka nyatakan dalam janji baptisan—mendidik anak-anak mereka untuk mengasihi Tuhan dan manusia.
Pada waktunya nanti, orang tualah yang mendorong anak-anak mereka untuk mengikuti katekisasi, agar mereka dapat lebih mengenal ajaran dan iman Kristen. Baru di akhir pelajaran, pada waktu pengakuan percaya atau sidi, mereka dituntut untuk mengakui Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan secara pribadi.
Pada sakramen baptis anak, orang tua mewakili anak untuk berbicara di depan jemaat Tuhan, maka pada acara pengakuan percaya atau sidi, anak-anak itu sendirilah yang berbicara di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya.
Tak perlu ada unsur paksaan di sini. Dengan pengarahan yang baik, bukanlah suatu kemustahilan jika akhirnya anak-anak dengan rela memilih untuk menganut kepercayaan orang tua mereka.
Itu hanya mungkin terjadi jika para orang tua sungguh-sungguh memahami apa yang mereka imani. Jika tidak paham, bagaimana mungkin mereka membagikannya. Lalu, bagaimana membagikannya?
Itu jugalah alasan Majelis GKJ Jakarta menyeragamkan bacaan Alkitab bagi setiap kategori umur pada ibadah minggu. Keputusan itu belum lama dibuat, sekitar sepuluh tahun lalu. Sedangkan dalam skala yang lebih luas, Sinode GKJ baru sekitar tiga tahun ini menerbitkan kurikulum Anak dan Remaja berdasarkan leksionari.
Itu berarti, baik khotbah dalam ibadah umum maupun cerita anak yang disampaikan pengasuh anak dalam ibadah anak berdasarkan nas yang sama. Tujuannya praktisnya ialah agar ada bahan obrolan antara orang tua dan anak berkait dengan ibadah minggu. Sehingga anak semakin memahami makna cerita Alkitab yang didengarnya.
Lebih baik lagi, jika para orang tua mengulangi cerita pengasuh anak dalam ibadah anak dengan gaya yang pasti berbeda. Bagaimanapun, orang tua—mengutip Andar Ismail—adalah guru sekaligus pendeta bagi anak-anak mereka.

Belajar Bercerita
Pada titik ini, baik orang tua maupun pengasuh anak dalam ibadah anak perlu belajar bercerita sebagaimana Yesus bercerita. Oleh karena itu, sedikitnya orang tua dan pengasuh anak dalam ibadah anak harus:
1. Mengenal cerita yang disampaikan; kita tidak mungkin mengajarkan sesuatu yang kita sendiri tidak mengenalnya.
2. Memercayai kebenaran cerita itu; kita tidak mungkin meyakinkan orang lain akan hal yang tidak kita percaya.
3. Menghargai cerita itu; kita tidak mungkin membuat anak-anak tertarik akan apa yang tidak menarik bagi kita.
4. Menceritakannya dengan penuh antusias dan dramatis sehingga memikat hati anak.
Mengenai daya pikat, mari perhatikan pembukaan cerita ini:
”Ada seorang nabi bernama Elia. Ia berasal dari Tisbe, sebuah kota wilayah Gilead. Pada suatu hari ia datang kepada Raja Ahab dan berkata, ’Saya berbicara demi Tuhan, Allah orang Israel, Allah yang hidup, Allah yang saya layani! Selama dua atau tiga tahun mendatang tidak akan ada embun atau hujan sedikit pun, kecuali kalau saya berkata bahwa ada embun atau hujan.’”
Dengan pembukaan seperti itu bisa dipastikan tidak ada anak yang tertarik untuk mendengar kisah berikutnya. Tetapi, amanat dari kalimat itu sebenarnya hebat dan sangat menarik seandainya disampaikan secara dramatis:
”Tak seorang pun di istana yang dapat mencegah tamu yang tak diundang itu! Penjaga-penjaga dia lalui dengan beraninya dan langsung masuk ke ruang singgasana untuk menghadap raja.
Raja sangat terkejut melihat dia dan menjadi lebih terkejut lagi sewaktu mendengar perkataannya: ”Sesungguhnya Tuhan Allah orang Israel itu hidup, dan aku ini berdiri di hadapan hadirat-Nya, tidak akan ada hujan… atau embun… beberapa tahun ini, kalau tidak kukatakan!
Lalu Nabi Elia dengan tenang meninggalkan istana raja Ahab dan keluar dari kota Samaria.”
Persoalan daya pikat berkait erat dengan teknik; itu hanya masalah latihan. Memang ada sebagian orang menganggap, bercerita merupakan bakat. Namun, para pakar komunikasi, juga seniman, pastilah akan menolak anggapan itu karena mereka telah terbiasa berlatih keras untuk menjadi piawai. Lagi pula, tanpa latihan keras bakat akan musnah.
Persoalannya, jarang sekali terbit buku yang mampu menggairahkan imajinasi dan daya nalar anak dengan cara memaksimalkan cerita Alkitab. Dan dari yang sedikit itu, kebanyakan hasil terjemahan pula.

Harapan
Lalu, apa yang bisa diharapkan dari—kita berharap bisa diwujudkan—Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)?
Berkait dengan pewarisan iman tadi, LAI perlu memperbanyak buku-buku Cerita Alkitab Anak. Kita bersyukur, LAI telah berupaya menerbitkan jenis tersebut. Namun, pada hemat saya, itu belum cukup dan masih bisa dikembangkan.
Sebab, itu jugalah yang dibutuhkan orang tua dan pengasuh ibadah anak. Mereka, sebagai praktisi di lapangan yang langsung bersentuhan dengan anak, dapat menjadikan atau menggunakan buku-buku Cerita Alkitab Anak sebagai bahan ajar praktis. Mereka membutuhkan contoh cerita Alkitab yang baik. Saya rasa, LAI dipanggil juga untuk memenuhi kebutuhan itu.
Jika anak sudah mulai mampu membaca, keberadaan buku-buku tersebut akan menolong mereka semakin menghayati Firman Allah. Dan akhirnya menerapkannya!
Itu berarti, LAI dipanggil pula untuk menjadi sarana bagi tumbuh kembangnya para penulis dan ilustrator Kristen. Sehingga semakin banyak terbitan Cerita Alkitab Anak versi Indonesia. Memang bukan pekerjaan gampang, namun bukan kemustahilan.
Semoga harapan ini tidak berlebihan!
Yoel M. Indrasmoro

DIA, April 2010
MEMBAGIKAN PEMAHAMAN IMAN

”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh. 14:15). Kita tentu setuju dengan pernyataan Yesus itu. Apa lagi bagi yang sedang jatuh cinta. Biasanya orang akan melakukan apa saja bagi kekasihnya. Yang penting hati pasangannya senang. Dan semuanya didasari cinta.

Kasih: Modal Utama
Kasih jugalah yang seharusnya menjadi modal utama setiap Kristen. Bermodal kasih, hal tersulit bisa dijalani dengan setia. Hal menuruti kehendak Tuhan sejatinya memang harus berdasarkan kasih. Jika tidak, maka kita tak ubahnya budak!
Jika tidak didasari kasih, maka yang ada hanyalah setumpukan beban kerja yang harus dijalani tanpa protes. Dan yang akan keluar dari mulut hanyalah rangkaian keluhan, bisa jadi malah gerutuan.
Kasih kepada Allah akan membawa kita kepada kepatuhan. Kasih akan membawa kita untuk menjalani semua tugas yang dibebankan dengan setia. Sebagaimana Yesus—yang karena kasih-Nya menjadi patuh kepada Sang Bapa. Dalam diri Yesus, buah kasih adalah kepatuhan. Tanpa kasih, kepatuhan hanyalah semu!
Namun, pengalaman hidup manusia menegaskan bahwa manusia, meski sungguh-sungguh mengasihi Allah, kadang toh jatuh juga. Akal budi bisa saja menyatakan dengan tegas bahwa kita mengasihi Allah. Tetapi, ketika duka menerpa kita, persoalan menyelimuti kita, sering perasaan kita ikut-ikutan terombang-ambing; dan berujung pada menjauhi Allah. Kita tidak lagi mengasihi Dia. Kalau sudah begini, maka kita pun menjadi enggan menuruti segala perintah-Nya.

Penolong
Karena itulah, Yesus menjajikan Penolong yang lain kepada para murid-Nya. Menarik disimak, sebutan untuk Roh Kebenaran atau Roh Kudus bukanlah Diktator, tapi Penolong. Dia bukanlah Diktator yang sewenang-wenang, namun Penolong yang setia. Dialah yang akan menolong kita untuk mengasihi Allah sehingga kita dapat menuruti kehendak-kehendak-Nya.
Dunia memang tidak dapat menerima Dia. Segala yang jahat pastilah menolak Roh Kebenaran. Sebab, Roh Kebenaran itu senantiasa mengoreksi apa yang tidak benar. Kepada para murid-Nya, Yesus menjanjikan Penolong agar mereka sungguh-sungguh dapat berpikir, bersikap, dan bertindak benar!

Metode Paulus
Perintah Yesus tentu beragam. Salah satunya: memberitakan Kabar Baik! Itulah yang dilakukan Paulus—yang khusus diperintahkan untuk memberitakan Kabar Baik di kalangan orang-orang bukan Yahudi.
Di Atena Paulus tidak bertopang dagu. Dia berusaha membagikan pemahaman imannya kepada orang-orang Atena. Dan karena orang Atena memang gemar dengan pengetahuan baru, maka Paulus pun diundang ke sidang Areopagus untuk membagikan pengetahuan yang dimilikinya.
Di akhir catatannya mengenai perjalanan Paulus di Atena, Lukas menulis: ”Tetapi beberapa orang laki-laki menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka” (Kis. 17:34).
Tak semua pendengar tertarik dan akhirnya percaya dengan ajaran yang diberitakan Paulus. Namun, ada pula yang tertarik, di antaranya: Dionisius dan Damaris.
Mengapa?
Pertama, Paulus dalam pemberitaannya tidak menyerang orang-orang Atena. Sebaliknya, dia memuji ketaatan ibadah mereka kepada para dewa. Di sini Paulus mengakui bahwa orang Atena serius dengan apa yang mereka percayai. Paulus tidak menafikan itu. Paulus tidak menganggap remeh hal tersebut. Ia menerimanya sebagai suatu kenyataan baik.
Di sini orang Kristen Indonesia abad XXI perlu belajar banyak dari metode Paulus. Dalam mengabarkan Injil, atau membagikan pemahaman iman, janganlah kita menganggap remeh orang yang berbeda kepercayaan dengan kita. Kita harus menghargai orang-orang tersebut.
Namun, itu tidak berarti kita menganggap bahwa iman mereka sama dengan kita. Tidak sama sekali. Kita harus berani menyatakan iman kita. Kita tidak perlu menyembunyikannya. Tetapi, sekali lagi, kita patut menghargai orang-orang yang berbeda paham dengan kita.
Berbeda keyakinan bukan tabu. Meski demikian, janganlah perbedaan keyakinan membuat kita membenci orang yang mempunyai keyakinan itu.
Kedua, Paulus membagikan pemahaman imannya dalam konteks orang Atena. Di Atena Paulus menyaksikan sebuah mezbah dengan tulisan: ”Kepada Allah yang tidak dikenal”. Agaknya, Paulus mengenal sejarah mezbah tersebut.
Dalam bukunya Duta Bagi Kristus, William Barclay menyatakan, sekitar 600 tahun sebelum kedatangan Paulus, penduduk Atena dilanda wabah dahsyat. Lalu dipersembahkanlah kurban bagi setiap dewa yang dikenal. Namun wabah tetap berkecamuk.
Kemudian seorang pujangga Kreta, Epimenides, tampil dengan sebuah nasihat untuk melepaskan sekawanan domba berwarna putih dan hitam dari bukit Areopagus ke seluruh kota. Di mana pun seekor domba terbaring, di situ pulalah hewan tersebut dikurbankan kepada patung berhala terdekat. Jika domba berbaring di dekat kuil dewa yang belum dikenal, hewan itu dikurbankan kepada “Allah-allah yang tidak dikenal”. Kabarnya, sejak itu Atena bebas dari wabah.
Paulus menjadikan mezbah Allah yang tidak dikenal itu sebagai jalan masuk ke dalam pikiran para pendengarnya. Bahkan Paulus memperkenalkan Allahnya sembari mengutip syair para pujangga Atena. Paulus sangat mengerti konteks, sejarah, dan budaya orang Atena.
Orang Kristen Indonesia abad XXI perlu juga tahu sejarah Indonesia. Melalui sejarah, kita bisa paham mengapa banyak orang menganggap kekristenan sebagai agama penjajah.
Itulah kenyataan sejarah. Pengabar-pengabar Injil mula-mula di Indonesia memang bangsa Barat, yang identik dengan kekuasaan penjajah.
Tetapi, jangan pula kita lupa bahwa Pemerintah Hindia Belanda hanya mengizinkan pekabaran Injil di beberapa tempat saja. Injil tidak boleh disebarkan di masyarakat Sunda hingga awal abad 20. Pemerintah takut kalau pekabaran Injil malah membuat kekuasaannya terancam.
Ketiga, Allah adalah Pribadi yang memberi kebebasan kepada setiap orang untuk percaya atau tidak. Allah tidak pernah memaksa orang untuk percaya kepada-Nya.
Oleh karena itu, bagian kita hanyalah membagikan pemahaman iman. Mengenai jumlah orang yang mau percaya atau tidak, itu dalam wewenang Allah saja! Yang sungguh-sungguh penting ialah apakah kita telah membagikan pemahaman iman kita?
Itu hanya dapat terjadi jika kita sungguh-sungguh memahami apa yang kita imani. Jika tidak paham, bagaimana mungkin kita mau membagikannya. Apa yang akan kita bagikan?
Caranya: peliharalah iman Saudara! Kita perlu sungguh-sungguh membina diri agar semakin memahami iman kita dan semakin mengasihi Allah.
Ini bukan pekerjaan gampang. Tetapi, jangan kita lupa kita punya Penolong sejati! Yaitu: Roh Kebenaran.

Yoel M. Indrasmoro

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s